Konflik Gajah vs Manusia yang Berujung Demo Warga Lamtim ke TNWK

Menggali akar masalah sejak 42 tahun lalu, akibat "Dosa Orde Baru" dalam kebijakan Tata Liman yang dianggap penyebab utama konflik Gajah vs Manusia di Way Kambas.

- Jurnalis

Selasa, 13 Januari 2026 - 23:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LINTANG.CO-  Selasa, 13 Januari 2026, menjadi puncak dari gunung es kemarahan warga Lampung Timur. Ribuan petani dari 23 desa penyangga mengepung kantor Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Jalan Lintas Timur. Aksi ini bukan sekadar protes biasa, melainkan ledakan trauma atas konflik yang telah merenggut nyawa, harta, dan ketenangan jiwa selama empat dekade.

Tragedi Kades dan Lumpuhnya Lintas Timur

Kemarahan massa dipicu oleh tewasnya seorang Kepala Desa di Lampung Timur yang terinjak gajah liar pada 31 Desember 2025. Ribuan warga (estimasi 3.000 hingga 5.000 orang) memblokade jalur utama Sumatera hingga macet total, memaksa kendaraan dialihkan ke jalan desa.

Serangkaian poster unik dibawa pendemo yang umumnya warga desa penyangga TNWK.

Di barisan demonstran, poster-poster bernada satir dan getir bermunculan. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah poster bertuliskan: “TNWK Leha-leha, Suami Berjaga, Saya tidur sama siapa?”. Kalimat ini menggambarkan hancurnya tatanan sosial di desa penyangga, di mana para pria harus melakukan “ronda gajah” setiap malam demi menyelamatkan tanaman dari kawanan gajah yang bisa berjumlah lebih dari 50 ekor.

Kilas Balik 1984: Operasi Tata Liman yang Mengubah Peta Konflik

Sebelum tahun 1980-an, desa-desa di pinggiran Way Kambas relatif aman dari gangguan gajah. Namun, situasi berubah drastis pada tahun 1984 melalui program Tata Liman (Penataan Gajah).

Demi menyelamatkan aset perkebunan swasta raksasa di Lampung Tengah (seperti Gunung Madu dan Gula Putih Mataram), pemerintah Orde Baru melakukan relokasi besar-besaran gajah liar dari Mesuji, Tulangbawang, Lampung Tengah, termasuk memasukkan gajah dari Lampung Barat.

Baca Juga :  Menelusuri Labirin dan Data Kemiskinan di Indonesia

Gajah-gajah “pengungsi” ini dipaksa masuk ke Way Kambas, yang sebenarnya sudah dihuni kelompok gajah asli. Karena sifat teritorialnya, kelompok pendatang terdesak ke luar dan menjadikan ladang warga sebagai ruang hidup baru. Inilah yang disebut warga sebagai “konflik buatan”, lahir dari kebijakan yang mengutamakan korporasi di atas keselamatan rakyat.

Populasi dan Migrasi Gajah TNWK (1984 – 2026)

Peningkatan populasi yang terkonsentrasi di satu kawasan tanpa pembatas permanen yang kuat menjadi bom waktu yang kini meledak.

Periode

Peristiwa Kunci Estimasi Total Gajah di TNWK Status Konflik
Pre-1980 Alami / Habitat Asli ~100 – 150 ekor Sangat Rendah
1984 – 1985 Operasi Tata Liman (Relokasi Lamteng, Mesuji, Tuba, Lambar) + 200 – 250 ekor tambahan Mulai Muncul
2000 – 2015 Kelahiran alami & fragmentasi habitat luar ~300 – 350 ekor Tinggi (Ronda Gajah dimulai)
2026 Populasi Terkonsentrasi & Kerusakan Koridor ~380 – 450 ekor Sangat Tinggi (Darurat Nyawa)

 

Hasil Nyata Aksi: “Kontrak Mati” Balai TNWK

Setelah berjam-jam aksi, Kepala Balai TNWK, Mhd. Zaidi, akhirnya menemui warga dan menandatangani surat pernyataan bermaterai di hadapan saksi dari Pemda Lampung Timur dan tokoh masyarakat.

Ada tiga poin krusial dalam pernyataan tersebut:

  1. Pasal 1: Menuntut penghentian konflik gajah dalam bentuk apa pun di lahan masyarakat dengan langkah nyata dan terukur.
  2. Pasal 2: Pertanggungjawaban penuh atas kerugian materiil dan immateriil warga.
  3. Pasal 3: Pertanggungjawaban atas jatuhnya korban jiwa akibat konflik gajah.
Baca Juga :  Ekspansi Global BRI Holding UMi Dimulai, Pegadaian Raih Pendanaan Jepang

Warga Menuntut Tembok Beton atau Terus Berdarah?

Warga kini menolak solusi “setengah hati” seperti kawat listrik (e-fence) yang sering mati atau tanggul tanah yang mudah dilalui gajah saat banjir. Mereka mendesak pembangunan tembok beton permanen yang kokoh.

“Mahal memang, tapi satu nyawa manusia tidak bisa digantikan dengan apa pun,” tegas warga dalam orasinya.

Pemerintah kini ditantang untuk jujur: apakah mereka akan terus bersembunyi di balik alasan konservasi, atau benar-benar hadir untuk melindungi nyawa rakyatnya?

Ahmad (71), kakek sepuh warga Braja Harjosari itu, yang diwawancarai Lintang.co menceritakan, dulu sebelum 1984, daerah sekitar Brajaselebah, Braja Luhur, dan sekitarnya, aman. Tidak pernah ada gajah liar masuk area persawahan maupun kebun warga.  Baru setelah ada program Tata Liman itu, selain pejabat pusat, banyak tamu manca negara masuk ke Way Kambas. “Masyarakat sini senang semua,” ucap dia.

Sampai kemudian sadar, lanjut dia, hampir setiap tahun ada tragedi (warga meninggal) diserang gajah liar. Gajah liar itu, jelas dia, bukan habitat asli dari gajah Way Kambas, melainkan didatangkan dari luar kawasan. “Jumlah pastinya tidak tahu, ada yang pernah menghitung, sekitar 54 ekor,” kata dia.

Ronda gajah sendiri, jelas dia, warga sini selalu melakukan dengan berbekal mercon agar kawanan gajah liar itu tidak masuk ke area sawah dan pekarangan rumah warga. (red)

Berita Terkait

Pamerkan Inovasi Pangan di THAIFEX 2026, Bawa Keahlian Kuliner Thailand ke Kancah Global
BUMN Eksportir Tunggal Bukan Solusi Masalah Under Invoicing
Tangis Bahagia Nenek Jumaria Memandang Kabah
HIPMI Half Marathon 2026 Jadi Masa Depan Sport Tourism Lampung
Menyoal Pangkat Mayor Teddy, Analis Sebut Preseden Berbahaya
Menelusuri Labirin dan Data Kemiskinan di Indonesia
Hari Kartini 2026 dan Buruknya Layanan Kesehatan Bagi Perempuan di Pelosok
Prabowo dan Macron Bertemu di Istana Elysee

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 11:01 WIB

Pamerkan Inovasi Pangan di THAIFEX 2026, Bawa Keahlian Kuliner Thailand ke Kancah Global

Rabu, 20 Mei 2026 - 09:00 WIB

Tangis Bahagia Nenek Jumaria Memandang Kabah

Rabu, 13 Mei 2026 - 11:36 WIB

HIPMI Half Marathon 2026 Jadi Masa Depan Sport Tourism Lampung

Kamis, 7 Mei 2026 - 22:25 WIB

Menyoal Pangkat Mayor Teddy, Analis Sebut Preseden Berbahaya

Selasa, 21 April 2026 - 21:25 WIB

Menelusuri Labirin dan Data Kemiskinan di Indonesia

Berita Terbaru

Nasional

TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis

Selasa, 23 Jun 2026 - 21:29 WIB

Pilihan

Meksiko Tim Pertama Lolos Babak Gugur Piala Dunia 2026

Jumat, 19 Jun 2026 - 11:16 WIB

Uncategorized

Kejagung Sebut Dadan Cs Korupsi Program MBG

Kamis, 4 Jun 2026 - 11:51 WIB