LINTANG.CO — Ada sebuah kehangatan yang berbeda saat saya melangkah masuk ke Taman Budaya Lampung sore itu, Kamis, 15 Januari 2026. Matahari yang mulai meluruh ke barat dan awan yang berarak, tidak hujan dan tidak panas, seolah memberi restu bagi sebuah perhelatan jiwa: peluncuran buku “Kota Kelabu”.
Sebuah judul buku yang terdengar sendu, namun di baliknya tersimpan api yang menyala-nyala.

Secara dramatis, pasca lagu kebangsaan Indonesia Raya bergema memenuhi ruang, pencahayaan panggung ditata sedemikian rupa—menciptakan siluet yang mencekam sekaligus syahdu. Saat kelir dibuka, sebuah potret kemanusiaan tersaji di hadapan kami. Dua perempuan berdiri di episentrum cahaya. Satu duduk tenang di kursi roda; yang satu lagi mendorong dan berdiri khidmat di belakangnya, serupa pilar penyangga yang kokoh. Di sanalah Fitria Novita melarungkan suara, membacakan puisi berjudul “Ruang Hujan”.
Dalam bait-bait yang ia ucapkan, seolah ada aroma tanah basah dan sisa badai yang belum usai. Fitria kemudian bercerita tentang kebangkitan. Seolah berdiri di atas puing-puing traumanya sendiri, pasca kecelakaan yang membuatnya lumpuh.
Baginya, sastra bukanlah sekadar aksesoris, melainkan detak jantung kedua. Obat dari segala keputusasaan.
“Karya bukan lahir dari raga yang bugar, melainkan dari jiwa yang menolak untuk menyerah pada keadaan.”
Sederet ucapan terima kasih ia lantunkan, mengalir jernih semacam oase di tengah gersangnya harapan. Kesaksian ini kian lengkap saat seorang perawat dari Puskesmas Palas Jaya, Lampung Selatan, ikut berkisah. Di panggung itu, sang perawat tidak bicara dengan bahasa medis yang kaku, melainkan dengan bahasa kalbu. Ia mengisahkan bagaimana Fitria, seorang pasien yang secara klinis mengalami cedera berat dan kelumpuhan, justru mampu memenangkan pertempuran batin melalui kreasi.
Sastra, di tangan mereka, menjelma menjadi instrumen perlawanan yang sempurna. Ia terbukti mampu menundukkan rasa sakit, mengubur trauma, dan mengambil kembali kendali atas takdir yang sempat terasa runtuh.
“Jika tubuh adalah penjara, maka kata-kata adalah kunci untuk membuka gerbangnya.”
Pembuka panggung itu adalah sebuah sinergi kemanusiaan yang paripurna. Sambil mengeratkan genggaman pada tangan kecil anak saya yang baru pulang sekolah, saya menyelami tatapannya yang polos. Saya berharap, di Taman Budaya Lampung sore ini, ia tidak hanya melihat tontonan, tetapi menyerap sebuah pelajaran besar: bahwa manusia harus terus menulis untuk menemukan makna hidup, untuk melawan keputusasaan, dan untuk tetap bercahaya meski dunia di sekelilingnya tampak “kelabu”.
Melihat Fitria, anak saya belajar bahwa hambatan fisik hanyalah debu di bawah kaki semangat yang melesat. Selama pikiran masih mampu merangkai mimpi dan hati masih mampu menguntai kata, manusia akan selalu memiliki kemerdekaannya yang paling hakiki.
“Kota Kelabu” mungkin menjadi judul yang dipilih untuk buku tersebut, namun semangat yang terpancar dari para penulis di KPML (Komunitas Penulis Muda Lampung) justru memberikan spektrum warna yang paling cerah bagi wajah sastra Lampung.
Kami pulang dengan perasaan yang penuh—sebuah keyakinan bahwa di balik setiap luka yang menganga, selalu ada narasi yang menunggu untuk dipulihkan, dan di setiap keterbatasan, ada karya agung yang siap dilahirkan.
Taman Budaya Lampung sore itu bukan sekadar panggung seni. Ia adalah ruang penyembuhan masal bagi siapa saja yang masih percaya bahwa kata-kata memiliki kuasa untuk membangkitkan yang rebah dan menguatkan yang rapuh.
Isbedy Adalah Ayah Para Penulis Muda
Performa emosional itu tak lengkap tanpa merunut dari mana sebuah pencapaian sastra berhasil ditorehkan. Di sinilah peran Isbedy Stiawan ZS menjadi krusial. Sebagai pembina dan penasihat KPML, Isbedy bukan sekadar figur otoritas, melainkan “Ayah” yang memastikan api kreatifitas anak muda Lampung tetap menyala.
Dalam tinjauan sosiologi sastra, peran Isbedy merepresentasikan fungsi literary patronage—sebuah dukungan moril dan intelektual yang memberikan ruang aman bagi penulis muda untuk bertumbuh.
Isbedy meneguhkan diri sebagai poros kesusastraan Lampung yang tidak hanya fokus pada pencapaian estetika pribadi, tetapi juga pada transmisi nilai. Sore itu, ia tampil sebagai intisari panggung, membacakan empat puisinya: Halo, Hilir, Muara, dan Aku Bercerita. Melalui larik-lariknya, Isbedy seolah sedang mempraktikkan teori mimesis; meniru realitas kehidupan yang penuh liku, lalu menyajikannya kembali sebagai renungan yang jernih.
Kreativitas dipancing dan diberi stimulan melalui teladan langsung, membuktikan bahwa sastra adalah sebuah “perjalanan” dari hulu (ide) menuju hilir (karya).
Keelokan sore itu kian paripurna saat putri Isbedy, Adelia, tampil memesona membacakan puisi-puisi dari buku Kota Kelabu.
Kehadiran Adelia menjadi simbolisasi kuat tentang keberhasilan pewarisan gairah literasi. Artinya, sastra di Lampung bukan sekadar artefak, melainkan organisme yang bergerak dinamis antar-generasi.(*)
Ditulis Oleh; Endri Kalianda, 15 Januari 2026










