Tangis Bahagia Nenek Jumaria Memandang Kabah

"Aku ini hanya tukang kebun. Aku orang miskin."

- Jurnalis

Rabu, 20 Mei 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LINTANG.CO- Sudah lebih dari sepekan, Nenek Jumaria berada di kota suci Mekkah, Arab Saudi. Tiga kali ia menunaikan umrah.

Sekali umrah wajib, dua kali umrah sunah. Momen paling menggetarkan dirinya adalah saat melihat Kabah di Masjidil Haram, kiblat dalam shalat lima waktu. ”Kenapa aku bisa sampai di sini, aku orang miskin…,” kata Jumaria menuturkan kenangannya saat menginjakkan kaki di Masjidil Haram dan memandang Kabah.

Ia tak sanggup melanjutkan kata-kata. Tangisnya pun tumpah. Ia tak percaya bisa sedekat itu dengan kiblat yang selama ini hanya bisa dibayangkan tiap menunaikan shalat. Jerih payah perjuangan selama 20 tahun, menabung dari upahnya sebagai kuli kebun, terbayar lunas saat itu.

Nama Jumaria (70), perempuan sebatang kara di pelosok di Desa Kuru Sumange, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, viral dan mengglobal setelah ia terpilih sebagai ikon ”Makkah Route” dan dibuat videonya. Makkah Route (Thariq Makkah) adalah prakarsa Kerajaan Arab Saudi membuka layanan imigrasi bagi jemaah haji di bandara keberangkatan, yang sering disebut fast track.

Makassar, bandara keberangkatan Jumaria, tahun ini untuk pertama kali mendapat layanan itu. Hanya empat bandara di Indonesia yang memperoleh layanan khusus itu, termasuk Makassar. Tiga bandara lain Adalah Jakarta, Solo, dan Surabaya.

Tim Media Center Haji (MCH) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menemuinya di Hotel Asrar Altayseer, wilayah Jarwal, sebelah barat laut Masjidil Haram, Sabtu (16/5/2026) siang. Saat itu merupakan hari kedelapan bagi Jumaria dan jemaah kelompok terbang (kloter) 14 embarkasi Makassar berada di Mekkah. Sebelumnya, mereka berada di Madinah selama sembilan hari.

Sabtu siang itu, Jumaria dan jemaah sekloternya bersiap melaksanakan umrah ketiga. Di usianya yang 70 tahun, tak terlihat sama sekali keletihan atau kejenuhan di wajahnya. Raut muka Jumaria memancarkan energi dan semangat hidup pantang menyerah.

Di kampung halamannya, di pelosok Kabupaten Maros, Jumaria tinggal sebatang kara di sebuah rumah panggung. Petugas Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Maros, yang mengunjunginya sebelum ia berangkat haji, melihat banyak lubang di rumah itu. ”Lebih dari 20 tahun (saya hidup) sendiri,” ujar Jumaria.

Sitti Hawaisyah, ketua kloternya dan staf Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Maros, menuturkan, sejak Jumaria berpisah dari suaminya puluhan tahun silam, ia hidup sendiri.

”Dia hidup sendiri dan bersabar sebatang kara, dia menginspirasi,” ujarnya.

Perjalanan ke Tanah Suci adalah perjalanan pertama Jumaria keluar dari Pulau Sulawesi. Juga penerbangan pertamanya. ”Pertama saya agak ragu karena kenapa (pesawat ini) bisa naik ke atas, toh. Takut. Lama-lama, ya, sudah baik rasanya. Alhamdulillah,” katanya.

Baca Juga :  Denda Administratif Dianggap Lebih Bermanfaat Dibanding Hukuman Bagi Perusak Hutan
NENEK JUMARIA-Jemaah haji asal Kabupaten Maros

Jumaria mendaftar naik haji pada 2011. ”Saya kumpul (uang tabungan), setelah cukup, saya pergi mendaftar. (Untuk melunasinya) kalau saya dapat uang, saya simpan-simpan lagi,” tuturnya.

”Lebih dari 20 tahun mengumpulkan uang, saya baru bisa ke sini (Mekkah). Saya kumpul uang sedikit-sedikit, saya jadi bisa ke sini,” lanjut Jumaria.

Tangisnya kembali pecah saat ditanya berapa banyak ia menabung per hari. Ia teringat, betapa tak mudah hidupnya agar bisa menabung. Ia menyimpan sedikit demi sedikit uang dari upah hasil bekerja sebagai kuli kebun.

”Biasanya kalau aku dapat sedikit, saya kumpulkan. Kalau mendapat Rp 100.000, saya simpan Rp 50.000,” tutur Jumaria.

Di kampungnya, ia menggarap sendiri sawah miliknya. Selain itu, ia menggarap kebun milik orang lain. Kebun itu ditanami ubi kayu dan jagung. ”Kalau bangun tidur, pergi dulu kasih makan ayam. Baru menyapu-nyapu, ambil air, mencuci. Sesudah mencuci, mandi. Sesudah mandi, makan sedikit. Baru duduk dulu. Selesai pekerjaan di rumah, pergi ke sawah. Lihat-lihat padi, bersih-bersih rumputnya,” lanjut Jumaria.

”Kalau pulang di rumah, bersih-bersih dulu, baru pergi lagi lihat-lihat kebun,” ujarnya lagi.

Dengan menggarap lahan kebun milik orang lain itu, ia memperoleh upah. Jumaria menuturkan, semua uang tabungan untuk haji disimpan di sebuah ember. ”Kadang sebulan dikasih Rp 200.000, kadang dua bulan baru dikasih Rp 200.000,” kata Marwati, rekan sekloternya yang mendampingi Jumaria selama wawancara.

Panggilan suci

Dengan perjuangan tersebut, panggilan ke Tanah Suci bagi Jumaria terasa seperti terbang ke surga. Dalam persiapan naik haji, ia selalu menghadiri setiap manasik yang diselenggarakan kantor Kementerian Haji dan Umrah Maros. ”Ada sekitar 80 kali pertemuan manasik, dia paling semangat. Tidak pernah absen. Setiap dia datang, pasti dia duduk di depan, serius untuk mengikuti materi manasik,” ujar Sitti Hawaisyah.

Saat menjalani pengambilan gambar atau shooting untuk mendokumentasikan kegiatannya sehari-hari, dan video itu viral pada 28 April 2026, tak ada kesulitan apa pun. Shooting hanya memakan waktu sekitar empat jam. Pada 3 Mei 2026, dua rekaman di antaranya dirilis di akun Instagram @Makkahroute. ”Alhamdulillah,” jawab Jumaria saat ditanya soal video yang viral itu.

Baca Juga :  Konflik Gajah vs Manusia yang Berujung Demo Warga Lamtim ke TNWK

Pada 1 Mei 2026, Jumaria terbang dengan pesawat Garuda Indonesia (GA) 1114 menuju Madinah. Sembilan hari berada di ”Kota Nabi”. Selama di Madinah, ia lebih banyak menghabiskan waktu di Masjid Nabawi. ”Berangkat sebelum waktu shalat Ashar, pulangnya selepas shalat Isya,” ujar Marwati.

”Alhamdulillah, beliau kuat dan tidak pernah mengeluh,” ujarnya.

Tak ketinggalan, ia berkunjung ke Raudhah, area sakral antara mimbar dan makam Nabi Muhammad SAW yang diyakini menjadi salah satu tempat mustajab untuk memanjatkan doa, di Madinah, Arab Saudi. Pagi-pagi sekali, kata Marwati, ia dan sejumlah jemaah mengantre masuk Raudhah. ”Karena beliau tidak punya HP (ponsel), jadi kami masuk jalur rombongan desak-desakan. Namun, masya Allah beliau sangat kuat,” kata Marwati.

Bagaimana rasanya berada begitu dekat dengan makam Nabi Muhammad SAW, tanya salah satu dari kami. Sama seperti saat ia mengenang melihat Kabah, tangis Jumaria pecah. Kebahagiaan pada momen-momen seperti itu tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Sepanjang wawancara sekitar 30 menit, Jumaria beberapa kali menumpahkan tangisnya. Hanya sesekali tersenyum lebar saat disinggung soal makanan kesukaannya dan syal bertuliskan namanya dan gambar lucu di lehernya. ”Kangen makan udang dan mangga,” ujarnya.

Persiapan wukuf

Sekitar sepekan lagi, Jumaria dan para jemaah haji lainnya akan menunaikan wukuf, puncak dari rangkaian ibadah haji, di Arafah dan ibadah-ibadah lain dalam rangkaian Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). ”Siap,” jawab Jumaria singkat mengenai kesiapannya menjalani puncak haji.

Sejauh ini, hingga memasuki pekan ketiga di Tanah Suci, kondisi tubuh Jumaria sangat sehat. Sitti Hawaisyah dan Marwati memperlihat kan kartu pengenal keduanya, yang ditandai dengan stiker merah (artinya, masuk kategori berisiko karena penyakit seperti hipertensi, dan lain-lain), sedangkan kartu pengenal Jumaria bersih tanpa stiker.

”Artinya, Nenek Jumaria sangat sehat,” kata Marwati.

”Berkebun dan bertani,” jawab Jumaria singkat saat ditanya kebiasaan dan resep yang membuatnya sehat. ”Pukul 09.00 saya pergi ke sawah, pukul 11.00 pulang. Saya bawa air sebotol untuk minum,” ujarnya.

Menurut Sitti Hawaisyah, ada satu keinginan yang ingin diraih Jumaria, yakni mencium hajar aswad. Batu hitam di pojok Kabah. Keinginan itu sementara dipendam, menunggu selesainya puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Saat ditanya apa doa yang dia panjatkan, hanya satu kalimat jawaban Jumaira: ”Saya berdoa mudah-mudahan bisa kembali lagi (ke Tanah Suci).” (lis)

Berita Terkait

Hari Kartini 2026 dan Buruknya Layanan Kesehatan Bagi Perempuan di Pelosok
Denda Administratif Dianggap Lebih Bermanfaat Dibanding Hukuman Bagi Perusak Hutan
Anak Muda yang Mana?
Prabowo dan Macron Bertemu di Istana Elysee
Mendes Yandri Jelaskan Dana Desa dan Koperasi Merah Putih
Peringatan HUT ke-81 Korp Brimob Lomba X-Treme 2026 Resmi Dimulai
Terungkap Pasal Siluman soal Tata Niaga Gula Rafinasi
Mazda Siapkan Kejutan di GIIAS 2026
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 20 Mei 2026 - 09:00 WIB

Tangis Bahagia Nenek Jumaria Memandang Kabah

Selasa, 21 April 2026 - 20:50 WIB

Hari Kartini 2026 dan Buruknya Layanan Kesehatan Bagi Perempuan di Pelosok

Senin, 20 April 2026 - 18:50 WIB

Denda Administratif Dianggap Lebih Bermanfaat Dibanding Hukuman Bagi Perusak Hutan

Rabu, 15 April 2026 - 18:41 WIB

Anak Muda yang Mana?

Rabu, 15 April 2026 - 15:44 WIB

Prabowo dan Macron Bertemu di Istana Elysee

Berita Terbaru

Jakarta

BUMN Eksportir Tunggal Bukan Solusi Masalah Under Invoicing

Jumat, 22 Mei 2026 - 00:55 WIB

Internasional

Tangis Bahagia Nenek Jumaria Memandang Kabah

Rabu, 20 Mei 2026 - 09:00 WIB

Susastra

Menjawab Kritik Majalah The Economist Terhadap Prabowo

Minggu, 17 Mei 2026 - 13:37 WIB