LINTANG.CO– “Jika kami tidak berbuat, maka semua warga bisa mati kelaparan.” Sumpah itu terucap dari bibir Usman (28), seorang pemuda Kampung Serule, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah. Di tengah kepungan longsor dan banjir yang memutus urat nadi kampungnya sejak 26 November 2025, Usman dan puluhan pemuda lainnya memilih untuk bertaruh nyawa demi menyambung napas ribuan nyawa yang terisolasi.
Selama hampir satu bulan, Serule lumpuh total. Tanpa listrik, tanpa sinyal telekomunikasi, dan tanpa akses jalan. Saat stok pangan menipis di hari kelima, keberanian menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa.
Perjalanan 29 Jam Menembus Rimba
Pada Senin, 1 Desember 2025, Usman memimpin 31 pemuda berjalan kaki menerobos hutan belantara dan perbukitan yang labil. Jalur motor yang biasanya ditempuh dalam 1 jam, kini harus mereka lalui dengan jalan kaki selama 10 jam untuk mencapai Kantor Camat Bintang.
Setibanya di sana pukul 18.00 WIB, mereka hanya beristirahat sejenak untuk membungkus logistik. Tak ada waktu untuk tidur. Pukul 20.00 WIB, dengan beban beras di pundak, mereka kembali mendaki jalan pulang dan tiba di kampung pada pukul 13.00 WIB keesokan harinya.
“Kami tidak tidur karena memikirkan anak, keluarga, lansia, dan masyarakat yang ada di kampung,” kenang Usman dengan suara bergetar.
Menantang Maut di Bibir Jurang
Sepuluh hari kemudian, 11 Desember 2025, saat logistik kembali kritis, para pemuda mengganti strategi menggunakan sepeda motor. Kali ini tantangannya jauh lebih maut:
Yaitu, mereka milintasi jalur rintisan yang becek, berlumpur, dan licin dengan jurang sedalam 30-50 meter di kanan-kiri.
Perjalanan itu, diwarnai insiden. Seorang rekan Usman hampir terperosok ke jurang sedalam 30 meter. Nyawanya terselamatkan hanya karena tersangkut pada gelondongan kayu sisa banjir.
Beban setiap motor, menurut Usman, dipaksa mengangkut 120 kg sembako. Total 1,2 ton berhasil mereka bawa masuk ke kampung secara mandiri.
“Kami Orang Gayo Tidak Ingin Memelas”
Ketegaran warga Serule bukan tanpa alasan. Setia Anwar, salah satu warga, merefleksikan bahwa tindakan para pemuda ini adalah bentuk harga diri masyarakat Gayo dalam bertahan hidup. “Kami tidak ingin memelas. Kami berupaya agar anak-anak sehat dan orang tua kami bisa melanjutkan hidup,” tegasnya.
Kondisi Terkini dan Status Darurat
Meski bantuan helikopter dari pemerintah mulai masuk, akses jalan ke Serule diprediksi baru bisa dilalui kendaraan roda empat pada akhir Desember 2025.
Sementara itu, dampak bencana di Sumatra kian memilukan: Data Bencana (per 28 Des 2025), Terdapat korban meninggal (Total Sumatra) sebanyak 1.138 jiwa dan ada 163 warga yang hilang. Sementara rumah rusak tercatat 171.379 unit dan fasilitas pendidikan yang rusak terdata ada 3.188 unit.
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), telah memperpanjang Status Tanggap Darurat hingga dua pekan ke depan untuk 11 kabupaten. Ia memerintahkan jajaran untuk memastikan hak-hak dasar pengungsi terpenuhi, termasuk akses kesehatan dan pendidikan darurat bagi anak-anak korban bencana.
Kisah dari Serule menjadi pengingat pahit bahwa di tengah lambatnya pemulihan infrastruktur, solidaritas warga seringkali menjadi benteng terakhir melawan maut.(red)










