LINTANG.CO- Cinta adalah suatu tiran. Kalimat itu diungkapkan Gertrude Bell, seorang “Ratu Padang Gurun” yang menari di atas garis tipis antara hasrat personal dan ambisi imperial. Melalui catatan harian yang berfungsi ganda, sebagai peta topografi sekaligus rekaman gejolak jiwa, Bell memetakan wilayah-wilayah Timur Tengah, bukan hanya sekadar sebagai tanah gurun dengan masyarakat bar-bar, melainkan sebagai papan catur raksasa bagi Kerajaan Inggris.
Jika sejarah selama ini memuja Lawrence of Arabia, maka Bell adalah kecerdasan sunyi yang berdiri di belakang bayang-bayangnya. Dalam film Queen of the Desert (2015) garapan Werner Herzog, kita melihat fragmen kehidupan Bell yang diperankan Nicole Kidman. Namun, di balik sinematografi yang puitis, tersimpan realitas politik yang jauh lebih tajam dan dingin. Bell bukan sekadar pelancong; ia adalah perwujudan dari tesis Niccolo Machiavelli dalam The Prince, bahwa kekuasaan seringkali membutuhkan kombinasi antara kecerdikan rubah dan kekuatan singa.
Meski film Herzog cenderung menitikberatkan pada romansa, sejarah mencatat Bell sebagai arsitek yang menentukan nasib bangsa-bangsa. Semua raja dan elit politik di jazirah Arab muncul berkat “tangan dingin” Inggris yang digerakkan oleh jemari Bell. Ia adalah sosok yang memahami apa yang disebut Hannah Arendt sebagai The Origins of Totalitarianism—bagaimana struktur kekuasaan bisa dibangun melalui manipulasi identitas dan narasi.
“Bagaimana dia tahu kau akan menjadi raja? Dia adalah ratu gurun tanpa mahkota dan dialah yang membuat raja-raja.”
Kalimat ini merujuk pada pengaruh Bell yang nyaris bersifat teologis di mata suku-suku Badui. Dalam pergolakan sejarah yang mengulas keruntuhan Kekaisaran Ottoman, Bell muncul sebagai dalang intelektual. Ketika Sultan Abdul Hamid II mulai digoyang oleh gerakan internal, muncul sosok pengaku keturunan Nabi yang menyerang Sultan sebagai “Raja Merah” yang tiran. Ironisnya, tokoh tersebut merupakan kreasi sosiopolitik Bell yang dengan teliti menyusupkan nama sang provokator ke dalam silsilah suci demi memicu disintegrasi dari dalam.
Sejarah mencatat sebuah fragmen menarik ketika Sultan Abdul Hamid II, yang mencium aroma konspirasi, mengundang sang “keturunan nabi” buatan Inggris itu ke meja makan istana. Di hadapan hidangan Eropa yang lengkap—celemek, sendok, garpu, dan pisau—kebohongan itu tersingkap. Sang Sultan meyakini sebuah prinsip spiritual: tidak mungkin seorang dzuriah Nabi mengunyah makanan sambil memaki, atau lebih buruk lagi, menggunakan tangan kiri dengan fasih, mahir memotong daging di meja makan sembari menyuap pakai garpu.
Dalam titik ini, Bell tidak hanya bermain dengan peta, tapi juga dengan antropologi. Ia menggunakan pengetahuan mendalamnya tentang budaya lokal untuk menghancurkannya. Henry Kissinger dalam Diplomacy pernah menyebut bahwa stabilitas internasional seringkali dibangun di atas pengorbanan keadilan lokal. Bell menjalankan prinsip ini dengan sempurna; ia memanipulasi tokoh-tokoh lokal untuk mereduksi kekuasaan Sultan demi kepentingan Pax Britannica.
Bagi Bell, padang pasir adalah metafora kebebasan yang mematikan. Namun bagi Inggris, padang pasir adalah jalur minyak dan rute strategis. Di sinilah letak tragedi Bell: ia mencintai budaya Arab dengan segenap jiwanya, namun ia pula yang secara sistematis membelah-belah tanah tersebut menjadi negara-negara baru (seperti Irak dan Yordania) dalam Konferensi Kairo 1921.
Jika Lawrence terjepit di antara kesetiaannya kepada Inggris dan simpatinya yang tulus terhadap kemerdekaan Arab. Yang secara diplomasi, rakyat Arab tetap menjadi pion dalam permainan kekuasaan Inggris dan Prancis (Perjanjian Sykes-Picot).
Bell jauh lebih ektrem. Ia adalah “The Kingmaker” yang kesepian. Sebagaimana Winston Churchill seringkali mengandalkan laporan intelijen Bell, dunia melihat bahwa perbatasan yang ditarik dengan penggaris di atas peta Timur Tengah adalah hasil dari ketajaman intelektual seorang perempuan yang merasa lebih “hidup” di bawah tenda Badui daripada di ruang dansa London.
“Hanya ada satu jalan menuju kebahagiaan, dan itu adalah berhenti mengkhawatirkan hal-hal yang berada di luar kekuatan kehendak kita.” — Epictetus.
Namun demikian, Bell justru memilih sebaliknya. Ia merangkul semua hal yang berada di luar kendalinya: badai pasir, pemberontakan suku, dan diplomasi tingkat tinggi. Ia membuktikan bahwa di balik keindahan panorama yang megah dan puitis, politik adalah urusan darah dan tinta yang tidak pernah benar-benar kering.
Queen of the Desert bukan sekadar film biografi seorang pengembara, melainkan pengingat bahwa di balik setiap batas negara yang kita lihat hari ini, pernah ada seorang perempuan yang mengubah rindu menjadi strategi, dan cinta menjadi tiran yang menentukan arah sejarah dunia.
Tragedi terbesar Bell (mungkin capaian tertingginya) terletak pada Konferensi Kairo 1921. Di sana, ia duduk sebagai satu-satunya perempuan di tengah kerumunan pria berseragam, menentukan perbatasan Irak dan Yordania dengan penggaris di atas peta. Ia mencintai budaya Arab, ia fasih bahasanya, namun ia pula yang secara sistematis membelah tanah tersebut menjadi entitas-entitas baru yang hingga hari ini masih menyisakan bara konflik.(*)
Endri Kalianda, penulis buku kumpulan esai “Zaman Gilded sampai Keranjingan Judi Online”, Pustaka Media, 2024










