LINTANG.CO – Industri otomotif nasional diprediksi masih akan menghadapi jalan terjal pada tahun 2026. Meski ada tren kenaikan, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memproyeksikan penjualan mobil hanya akan tumbuh tipis, jauh dari level kejayaan sebelum pandemi yang mampu menembus angka 1 juta unit per tahun.
Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, menyebut target penjualan nasional tahun 2026 dipatok di angka 850.000 unit. Angka ini hanya meningkat 5,4% dibandingkan realisasi tahun 2025 yang tercatat sebesar 803.687 unit.
LCGC Lesu, Kendaraan Listrik Melaju
Berdasarkan data tahun 2025, terlihat pergeseran tren yang cukup tajam di pasar domestik:
- Segmen LCGC Terpuruk: Mobil murah ramah lingkungan (LCGC) yang biasanya menjadi tulang punggung kelas menengah bawah mengalami kontraksi berat. Penjualan wholesale merosot hingga 30,6%, mengindikasikan melemahnya daya beli masyarakat secara riil.
- Ledakan Kendaraan Listrik (EV): Berbanding terbalik, mobil listrik berbasis baterai (BEV) justru melonjak tajam dari 43.188 unit di 2024 menjadi 103.931 unit di 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh guyuran insentif fiskal dan hadirnya berbagai pemain baru.
- Penyelamat Ekspor: Di saat pasar domestik lesu, kinerja ekspor kendaraan utuh (CBU) tampil sebagai pahlawan dengan kenaikan 9,7%, mencapai 518.212 unit.
Tantangan Besar ada di Pajak dan Insentif
Fredy Handjaja, CEO PT Astra International Tbk-Daihatsu Sales Operation, menilai tahun 2026 tetap menantang. Selain daya beli yang belum pulih, tingginya angka kredit bermasalah (NPL) pembiayaan kendaraan menjadi kerikil dalam pertumbuhan.
Senada dengan hal tersebut, pengamat otomotif ITB, Yannes Martinus Pasaribu, memperingatkan risiko penghentian insentif kendaraan listrik. “Penghentian insentif berisiko mendorong kenaikan harga hingga 20-40%. Beban pajak yang tinggi, bahkan bisa mencapai 50% dari harga mobil, akan terus menekan pasar jika tidak diimbangi kebijakan yang tepat,” jelasnya.
Selain faktor domestik, industri juga dihantui isu global berupa kelangkaan cip semikonduktor. Komponen ini sangat krusial bagi fitur keselamatan dan teknologi elektrifikasi. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pemerintah tengah menyiapkan roadmap industri semikonduktor nasional guna mengurangi ketergantungan impor yang melonjak drastis dalam lima tahun terakhir.
Menghadapi situasi ini, pabrikan mulai menyesuaikan strategi:
- Daihatsu: Tetap fokus pada konsep value for money dan mulai merambah pasar hibrida melalui Rocky Hybrid yang diklaim memiliki efisiensi BBM hingga 47,8 km/liter.
- Efisiensi Produksi: Fokus pada utilisasi pabrik agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah stok yang menumpuk.
Secara keseluruhan, industri otomotif 2026 akan menjadi medan pembuktian bagi ketahanan produsen dalam menjaga harga tetap terjangkau di tengah beban pajak dan ketidakpastian ekonomi global. (red)










