Kades yang Tewas Terinjak Gajah Liar Dianggap Martir

Bukti konflik Gajah dan Manusia di TNWK Waykambas, belum berakhir sejak 1980. Selalu berulang dan dianggap sebagai kelalaian negara.

- Jurnalis

Senin, 5 Januari 2026 - 11:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LINTANG.CO Sunyi mencekam masih menyelimuti Desa Braja Asri, Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur. Namun, di balik keheningan itu, tersimpan kemarahan dan luka mendalam. Darusman, Sang Kepala Desa, tak lagi bisa ditemui di kantornya. Ia telah berpulang dengan cara yang tragis: tewas diterjang kaki gajah liar dari Taman Nasional Way Kambas (TNWK) beberapa hari lalu.

Minggu (4/1/2026), tim investigasi Lembaga Bantuan Hukum Dharma Loka Nusantara (LBH DLN) yang turun langsung ke lokasi kejadian menemukan fakta bahwa tragedi ini bukanlah sekadar “musibah alam”, melainkan puncak dari gunung es kegagalan negara dalam mitigasi konflik satwa dan manusia.

Gugur dalam Tugas, Bukan Kecelakaan Biasa

Darusman, Kepala Desa yang terkenal ramah itu, tidak sedang berburu atau berwisata saat maut menjemputnya. Ia berada di ladang warga dalam kapasitasnya sebagai pemimpin desa. Ia menjadi garda terdepan, menggiring kawanan gajah yang merangsek masuk ke peladangan agar tak sampai menyentuh pemukiman.

Baca Juga :  Ketika Lagu Lampung Menjadi Pidato

“Adik saya gugur saat menjalankan tugas. Jangan hanya melihat kejadian ini sebagai peristiwa insidentil. Kami ingin negara melihat ini sebagai kegagalan dalam melindungi warga,” tegas Kusnan, kakak kandung almarhum dengan nada getir kepada tim investigasi.

Keluarga menolak keras narasi “musibah biasa”. Bagi mereka, Darusman adalah martir yang tewas karena instrumen negara untuk melindungi desa penyangga TNWK tidak berfungsi selama puluhan tahun.

Teror Menahun Sejak 1980-an

Investigasi LBH DLN mengungkap fakta sejarah yang kelam. Konflik di Braja Asri ternyata sudah berurat akar sejak tahun 1980-an. Kesaksian warga menunjukkan bahwa rasa aman mereka telah lama dirampas. Nama Jiwon, warga yang tewas di awal tahun 2000-an dengan pola yang sama, kembali mencuat.

Baca Juga :  Sajak-sajak Cinta dan Kerja Mengingat

Bahkan, pada malam pasca-pemakaman Darusman, teror belum berakhir. Warga masih harus berjaga di ladang dengan obor dan alat seadanya karena kawanan gajah liar dilaporkan masih berada di sekitar lokasi, siap kembali mengobrak-abrik mata pencaharian warga.(red)

Berita Terkait

TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis
HIPMI Half Marathon 2026 Jadi Masa Depan Sport Tourism Lampung
Denda Administratif Dianggap Lebih Bermanfaat Dibanding Hukuman Bagi Perusak Hutan
Penerima Bantuan PKH Bakal Diminta untuk Iuran Koperasi Merah Putih
KPK Tangkap Tangan Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo
Mazda Siapkan Kejutan di GIIAS 2026
Noe Letto Memberi Contoh Cara Pejabat Menjawab Kritik Publik
SGC Disoal, Nyonya Lee Merapat ke Warga

Berita Terkait

Selasa, 23 Juni 2026 - 21:29 WIB

TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis

Rabu, 13 Mei 2026 - 11:36 WIB

HIPMI Half Marathon 2026 Jadi Masa Depan Sport Tourism Lampung

Senin, 20 April 2026 - 18:50 WIB

Denda Administratif Dianggap Lebih Bermanfaat Dibanding Hukuman Bagi Perusak Hutan

Selasa, 14 April 2026 - 22:14 WIB

Penerima Bantuan PKH Bakal Diminta untuk Iuran Koperasi Merah Putih

Sabtu, 11 April 2026 - 18:55 WIB

KPK Tangkap Tangan Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Berita Terbaru

Nasional

TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis

Selasa, 23 Jun 2026 - 21:29 WIB

Pilihan

Meksiko Tim Pertama Lolos Babak Gugur Piala Dunia 2026

Jumat, 19 Jun 2026 - 11:16 WIB

Uncategorized

Kejagung Sebut Dadan Cs Korupsi Program MBG

Kamis, 4 Jun 2026 - 11:51 WIB