Jeritan Investor Ritel di Tengah Badai dan Guncangan Harga IHSG

Ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama dua hari berturut-turut pada akhir Januari 2026 menjadi alarm keras bagi pasar modal Indonesia. Di balik angka merah tersebut, terdapat jutaan investor ritel yang kini meragukan transparansi dan tata kelola otoritas keuangan tanah air.

- Jurnalis

Senin, 2 Februari 2026 - 08:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LINTANG.CO- Ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama dua hari berturut-turut pada akhir Januari 2026 memicu kekecewaan mendalam di kalangan investor ritel. Gejolak ini memperkuat urgensi pembenahan tata kelola pasar modal secara menyeluruh guna melindungi investor dari praktik manipulasi harga atau “goreng saham” yang masih marak terjadi.

Yanto, seorang investor ritel yang telah berkecimpung lebih dari satu dekade, berpendapat bahwa praktik saham gorengan bukanlah fenomena baru. Modusnya terus berulang: harga saham emiten tertentu, termasuk di sektor telekomunikasi dan grup konglomerasi, melonjak tiba-tiba tanpa didukung fundamental yang kuat.

Menurut Yanto, meski investor berpengalaman bisa mengenali pola tersebut, banyak investor pemula yang terjebak. “Kekecewaan kami bertambah karena penanganan persoalan lama ini terkesan lamban. Jika dibiarkan, integritas pasar modal akan terus diragukan, terutama setelah investor asing mulai menarik diri,” ujarnya di Depok, Sabtu (31/1/2026).

Berbeda dengan Yanto, Thara (39), warga Samarinda, baru tiga bulan belajar berinvestasi. Dalam dua hari (29-30 Januari), nilai investasinya di perusahaan teknologi menyusut dari Rp 15 juta menjadi Rp 13,2 juta. Meski merugi Rp 1,8 juta, ia masih memantau situasi sebelum memutuskan langkah selanjutnya.

Baca Juga :  SGC Disoal, Nyonya Lee Merapat ke Warga

Keresahan serupa dirasakan Nappisah (25) di Bandung yang merugi Rp 2 juta, serta Roben yang menekankan bahwa pasar modal semestinya dikelola secara transparan dan kredibel. Roben mengingatkan bahwa dana investor ritel sering kali berasal dari tabungan seumur hidup. “Nilainya mungkin kecil secara nominal bagi institusi, tetapi sangat besar secara personal bagi kami,” tegasnya.

Per Juni 2025, jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 17 juta orang, dengan 16,9 juta di antaranya adalah investor ritel domestik. Santi, investor asal Tangerang Selatan, menilai sejumlah kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) justru menambah ketidakpastian, seperti aturan Full Call Auction (FCA), kriteria suspensi, hingga kualitas emiten yang tidak jelas.

Rekomendasi MSCI

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, menyoroti dua rekomendasi utama dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang harus diseriusi pemerintah:

Perama, transparansi: Kejelasan hubungan antara pemilik manfaat (ultimate beneficial owner) dan emiten agar data dapat diakses terbuka oleh publik.

Kedua, peningkatan Free Float: Porsi saham publik saat ini sebesar 7,5 persen dinilai terlalu rendah. Standar internasional mensyaratkan minimal 10 persen, sementara OJK menargetkan 15 persen pada Maret 2026.

Tauhid memperingatkan jika dalam tiga bulan ke depan tidak ada perbaikan, minat investor terhadap bursa Indonesia akan semakin menurun. Apalagi, rentetan pengunduran diri lima pimpinan otoritas keuangan baru-baru ini memberikan sinyal perubahan besar yang harus dijawab dengan penegakan transparansi.

Baca Juga :  Potensi Bisnis yang Terungkap dalam Bukber HIPMI dan Gubernur

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu, menambahkan bahwa isu transparansi dan kejelasan pemilik manfaat adalah krusial karena investor menilai hal tersebut sebagai risiko pasar.

Mari menekankan bahwa pasar modal bukan sekadar angka di layar, melainkan sumber kapital bagi perusahaan untuk berekspansi di sektor riil melalui IPO. “Pasar modal berperan memperkuat tata kelola perusahaan melalui pengawasan pemegang saham publik. Pemerintah harus mengelola risiko ini agar tidak terjadi arus keluar investor yang lebih besar,” tuturnya.(red)

 

Berita Terkait

Empat Caketum Mulai Kampanyekan Visi Misi Keliling Indonesia
Suap Pita Cukai Rokok Ditangani KPK
Serangan Siber dan Penipuan Online Kian Ganas
Soliditas BPD HIPMI Lampung dalam Kontestasi MUNAS BPP HIPMI Ke-18
Terungkap Pasal Siluman soal Tata Niaga Gula Rafinasi
Mazda Siapkan Kejutan di GIIAS 2026
Ekspansi Global BRI Holding UMi Dimulai, Pegadaian Raih Pendanaan Jepang
Potensi Bisnis yang Terungkap dalam Bukber HIPMI dan Gubernur
Tag :

Berita Terkait

Senin, 27 April 2026 - 02:45 WIB

Empat Caketum Mulai Kampanyekan Visi Misi Keliling Indonesia

Jumat, 17 April 2026 - 14:02 WIB

Suap Pita Cukai Rokok Ditangani KPK

Jumat, 17 April 2026 - 13:59 WIB

Serangan Siber dan Penipuan Online Kian Ganas

Kamis, 16 April 2026 - 21:28 WIB

Soliditas BPD HIPMI Lampung dalam Kontestasi MUNAS BPP HIPMI Ke-18

Sabtu, 11 April 2026 - 23:52 WIB

Terungkap Pasal Siluman soal Tata Niaga Gula Rafinasi

Berita Terbaru

Nasional

TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis

Selasa, 23 Jun 2026 - 21:29 WIB

Pilihan

Meksiko Tim Pertama Lolos Babak Gugur Piala Dunia 2026

Jumat, 19 Jun 2026 - 11:16 WIB

Uncategorized

Kejagung Sebut Dadan Cs Korupsi Program MBG

Kamis, 4 Jun 2026 - 11:51 WIB