Kemah Sastra 2026 Hadirkan Akademisi Unila dan UIN RIL

Pemateri memaparkan tantangan alih wahana karya sastra Indonesia ke bahasa Lampung yang diharapkan ada kesadaran luas untuk masifnya penutur bahasa Lampung.

- Jurnalis

Kamis, 9 April 2026 - 15:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LINTANG.CO- Kemah Sastra 2026 yang diikuti 20 peserta dari kalangan pelajar dan mahasiswa menghadirkan pemateri Yinda Dwi Gustira, M.Pd., dan Devin Cumbuan Putri, M.Pd., di Villa Dangau Kedaung, Kemiling, Bandar Lampung, Kamis 9 April 2026.

Yinda menjelaskan, alih wahana adalah proses perubahan atau peralihan suatu karya seni dari satu jenis media (wahana) ke media lain.

Pengalih wahana ini mulai diminati, kata akademisi Universitas Lampung ini, misal dari puisi ke novel ataupun menjadi film. “Seperti puisi ‘Hujan Bulan Juni’ karya Sapardi Djoko Damono,” katanya.

Selain itu, alih wahana dari karya seni bahasa Indonesia menjadi bahasa ibu, yakni Lampung.

“Ini menandai bahwa pentingnya bahasa ibu bagi kelanjutan bahasa ini bagi generasi muda” ungkapnya.

Baca Juga :  Bantuan Beras UEA Disalurkan Muhammadiyah, Tidak jadi Dikembalikan

Karena pribumi Lampung ada dua entitas, yakni saibatin dan pepadun, dimana dialeknya memiliki perbedaan, sesi alih wahana menampilkan pembicara dialek A dan O.

Ia menunjukkan dalam sainatin juga ada perbedaan dialek, bahkan antara kedua pengguna bahasa itu hanya berjarak 2 jam.

Menurut Yinda, tantangan alih wahana karya sastra Indonesia ke bahasa Lampung karena tidak semua penduduk di daerah ini menguasai bahasa Lampung. Oleh sebab itu, ia berharap perbanyaklah belajar berbahasa Lampung. “Karena kita berada di tanah Lampung,” harap Yunda yang kerap menjadi juri lomba cipta bahasa ibu di daerah ini.

Sementara Devin Cumbuan Putri, akademisi UIN Raden Intan Lampung (RIL) mengatakan bahwa alih wahana karya sastra dari bahasa Indonesia ke Lampung sangat membantu untuk mengenalkan bahasa ibu kepada kalangan yang lebih luas dan beragam.

Baca Juga :  Kades di Lamsel Luruskan Kades Hoho

“Dalam berkomunikasi, yaitu melalui bahasa Lampung menjadikan komunikasi berlangsung,” ujarnya.

Keduanya sepakat, gunakan bahasa ibu dengan memilih dialek pepadun atau saibatin, karena Lampung sangat kaya dalam dialek.

Para peserta mendapat tugas praktik mengalih wahana puisi atau cerpen karya hasil pelatihan dalam bahasa Indonesia ke bahasa Lampung, baik dialek A maupun O.

Kemah Sastra 2026 sebelumnya diisi narasumber Isbedy Stiawan ZS, Arman AZ, dan Ari Pahala Hutabarat. Ketiganya adalah sastrawan Indonesia asal Lampung. (lis)

Berita Terkait

Kecurangan UTBK 2026 Bermodus Joki, Manipulasi Data, sampai Tanam Alat di Telinga
Menelusuri Labirin dan Data Kemiskinan di Indonesia
Hari Kartini 2026 dan Buruknya Layanan Kesehatan Bagi Perempuan di Pelosok
Mendes Yandri Jelaskan Dana Desa dan Koperasi Merah Putih
Pertamina Gelar Pasar Murah Bantu Warga Prasejahtera
Ekspansi Global BRI Holding UMi Dimulai, Pegadaian Raih Pendanaan Jepang
Potensi Bisnis yang Terungkap dalam Bukber HIPMI dan Gubernur
MBG Digugat ke MK, Minta Adies Kadir Tak Ikut Mengadili
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 18:53 WIB

Kecurangan UTBK 2026 Bermodus Joki, Manipulasi Data, sampai Tanam Alat di Telinga

Selasa, 21 April 2026 - 21:25 WIB

Menelusuri Labirin dan Data Kemiskinan di Indonesia

Selasa, 21 April 2026 - 20:50 WIB

Hari Kartini 2026 dan Buruknya Layanan Kesehatan Bagi Perempuan di Pelosok

Senin, 13 April 2026 - 03:33 WIB

Mendes Yandri Jelaskan Dana Desa dan Koperasi Merah Putih

Minggu, 12 April 2026 - 17:32 WIB

Pertamina Gelar Pasar Murah Bantu Warga Prasejahtera

Berita Terbaru

Daerah

Menelusuri Labirin dan Data Kemiskinan di Indonesia

Selasa, 21 Apr 2026 - 21:25 WIB