Jangan Rampas Suara Rakyat

Partai Gerindra, Golkar, PAN, PKB yang menyatakan sepakat Pilkada dipilih DPRD, disebut menyebabkan kemunduran demokrasi. Alih-alih memperbaiki sistem, justru merampas kedaulatan rakyat jadi kedaulatan elit.

- Jurnalis

Rabu, 31 Desember 2025 - 12:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dewan Pakar Partai Demokrat, Andi Malarangeng menyarankan perbaikan Pilkada Langsung.

Dewan Pakar Partai Demokrat, Andi Malarangeng menyarankan perbaikan Pilkada Langsung.

LINTANG.CO- Gelombang usulan pengembalian mekanisme pemilihan kepala daerah (Pilkada) ke tangan DPRD kini tengah memicu polemik panas di tingkat pusat. Di saat partai-partai besar seperti Golkar, PAN, Gerindra, dan PKB mulai memberikan sinyal dukungan, suara penolakan keras datang dari Ketua Dewan Pakar Partai Demokrat, Andi Mallarangeng.

Mantan komisioner KPU ini memperingatkan bahwa langkah tersebut bukan sekadar perubahan teknis, melainkan sebuah kemunduran besar yang berpotensi melahirkan “pemimpin berakar ke atas” yang hanya tunduk pada oligarki, bukan kepada rakyat.

Solusi “Spending Cap” ala Liga Eropa

Andi Mallarangeng mengakui bahwa biaya politik yang mahal dan maraknya money politics adalah masalah nyata dalam Pilkada langsung. Namun, menurutnya, solusinya bukan dengan menghapus hak pilih rakyat, melainkan memperbaiki sistemnya.

Ia menawarkan konsep Spending Cap—sebuah pembatasan biaya kampanye yang ketat, menyerupai aturan finansial di liga sepak bola profesional Eropa.

“Pembiayaan kampanye setiap kandidat dan partai harus dibatasi dengan jumlah yang tepat, tidak jor-joran. Begitu juga pembatasan penerimaan dana kampanye,” tegas Andi kepada wartawan di Jakarta, Senin (29/12).

Baca Juga :  Status Hukum Mantan Gubernur Lampung dan Fenomena Jaksa Pemeras

Selain itu, untuk menekan biaya operasional penyelenggaraan yang selama ini dianggap membebani APBD, Andi mengusulkan efisiensi ekstrem:

  • Pemangkasan TPS: Mengurangi jumlah TPS hingga separuh dengan menaikkan kuota menjadi 1.000 pemilih per TPS.
  • Perpanjangan Waktu: Menambah jam pemilihan hingga pukul 16.00 WIB.
  • Digitalisasi: Penggunaan teknologi e-voting untuk mempercepat penghitungan dan memangkas biaya logistik kertas suara.

Bayang-Bayang Oligarki dan Trauma Orde Baru

Kembalinya Pilkada ke DPRD dinilai Andi hanya akan memindahkan lokasi transaksi politik uang. Jika dahulu money politics terjadi di akar rumput secara masif, maka dengan sistem DPRD, transaksi tersebut hanya akan terlokalisasi di ruang-ruang tertutup legislatif.

“Kita akan kehilangan pemimpin yang berakar ke rakyat. Seluruh 38 gubernur dan 514 bupati/wali kota nantinya hanya ditentukan oleh segelintir elite—mungkin hanya 8 orang Ketua Umum partai di pusat,” ujarnya memperingatkan dampak dominasi oligarki.

Andi menekankan bahwa legitimasi pemimpin yang dipilih rakyat jauh lebih kuat dibandingkan mereka yang dipilih lewat perwakilan, berapa pun perbaikan sistem yang dijanjikan.

“Cek Ombak” yang Berisiko Gugatan Massal

Andi menduga wacana ini sengaja digulirkan sebagai upaya “cek ombak” untuk melihat resistensi publik menjelang revisi UU Pemilu. Namun, ia mengingatkan pemerintah dan parlemen untuk tidak bermain api dengan perasaan rakyat.

Baca Juga :  Penundaan Musda Golkar Bandar Lampung Kian Memanas

Berdasarkan data riset, sekitar 80 persen rakyat konsisten mendukung Pilkada langsung. Jika hak ini dipaksakan untuk dicabut, Andi meramalkan akan terjadi kegaduhan hukum yang belum pernah ada sebelumnya.

“Saya bayangkan setiap warga negara yang punya hak pilih akan berbondong-bondong antre mendaftarkan judicial review ke MK. Lebih dari 200 juta orang memiliki legal standing karena haknya dirampas,” tutup eks Menpora tersebut.

Perbandingan Wacana: Pilkada Langsung vs Pilkada DPRD

Aspek Pilkada Langsung (Usulan Perbaikan) Pilkada Lewat DPRD (Wacana Parlemen)

Legitimas

Sangat Kuat (Mandat Rakyat)

Lemah (Mandat Elite/Oligarki)
Biaya Efisiensi via E-Voting & Pangkas TPS Dianggap murah secara administratif
Politik Uang Pencegahan via Gakkum & Spending Cap Berisiko transaksional di tingkat elite
Akar Pemimpin Berakar ke bawah (Masyarakat) Berakar ke atas (Ketua Umum Partai)

 

Berita Terkait

Wacana Pilkada Lewat DPRD Upaya Membajak Suara Rakyat
PKS Gelar Kembara di Jawa Timur untuk Bantu Bencana Sumatera
Penundaan Musda Golkar Bandar Lampung Kian Memanas
Bupati Ardito dan Adiknya Ditahan KPK Terkait Pengaturan Proyek
PWI Aceh Selatan Minta Probowo Pecat Bahlil
Bahlil Target Menang Pemilu 2029
Reka Punnata Siap Menangkan PSI Lampung
Pundak Pengemban Amanah: Zulkifli Hasan dan Debat Abadi Soal Kepedulian vs Pencitraan
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 6 Januari 2026 - 11:05 WIB

Wacana Pilkada Lewat DPRD Upaya Membajak Suara Rakyat

Rabu, 31 Desember 2025 - 12:06 WIB

Jangan Rampas Suara Rakyat

Senin, 29 Desember 2025 - 13:17 WIB

PKS Gelar Kembara di Jawa Timur untuk Bantu Bencana Sumatera

Jumat, 19 Desember 2025 - 19:51 WIB

Penundaan Musda Golkar Bandar Lampung Kian Memanas

Kamis, 11 Desember 2025 - 20:27 WIB

Bupati Ardito dan Adiknya Ditahan KPK Terkait Pengaturan Proyek

Berita Terbaru

Internasional

China Larang Ekspor Produk Militer ke Jepang

Rabu, 7 Jan 2026 - 11:23 WIB

Jakarta

Wacana Pilkada Lewat DPRD Upaya Membajak Suara Rakyat

Selasa, 6 Jan 2026 - 11:05 WIB

Daerah

Kepsek Mesum di Lamtim Terancam Pecat

Senin, 5 Jan 2026 - 11:51 WIB

Nasional

Kades yang Tewas Terinjak Gajah Liar Dianggap Martir

Senin, 5 Jan 2026 - 11:30 WIB

Susastra

Membaca Kegelisahan Sastrawan di Tengah Arus Modernitas

Senin, 5 Jan 2026 - 11:13 WIB