Mengukir Asa di Atas Kayu Bencana, Kisah Salihin Melawan Nestapa Banjir Bandang

Warga Aceh Tengah berhasil membuat sampan dari sisa-sisa kayu yang sudah merenggut harta benda warga.

- Jurnalis

Rabu, 31 Desember 2025 - 05:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LINTANG.CO Di balik tumpukan lumpur dan batang kayu raksasa yang meluluhlantakkan Kampung Toweren Owaq, suara pahat kayu manual terdengar beradu dengan sunyi. Salihin, seorang warga setempat, tidak sedang meratapi sawah dan kebun kopinya yang kini rata dengan tanah. Di tangannya, sebatang kayu gelondongan sisa banjir bandang sedang bertransformasi menjadi sebuah sampan—satu-satunya harapan untuk menyambung hidup.

Bagi Salihin, perahu ini bukan sekadar alat transportasi air. Ini adalah manifestasi dari daya lentur seorang kepala keluarga yang kehilangan segalanya dalam semalam.

Mengubah Musibah Menjadi Peluang

Banjir bandang yang menerjang wilayah Aceh Tengah tidak hanya membawa air, tetapi juga material longsor berupa batu dan kayu-kayu besar yang menimbun lahan pertanian. Salihin adalah satu dari sekian banyak warga yang kehilangan mata pencaharian ganda: sawah padi dan kebun kopi.

“Sawah sudah habis, kebun sudah habis. Tidak ada lagi usaha selain melaut [ke danau],” ungkap Salihin sebagaimana dilansir dari BBC Indonesia.

Baca Juga :  Potensi Bisnis yang Terungkap dalam Bukber HIPMI dan Gubernur

Memilih untuk tidak menyerah pada keadaan, Salihin memanfaatkan kayu yang hanyut di sawah orang lain. Dengan peralatan seadanya—tanpa bantuan mesin listrik karena aliran setrum yang sempat terputus total—ia memahat kayu tersebut secara manual.

Detail Perjuangan Salihin

  • Material: Kayu gelondongan sisa banjir bandang.
  • Metode: Manual (memahat dan merakit dengan kekuatan tangan).
  • Lokasi: Sekitar 100 meter dari tepi danau.
  • Tujuan: Menjadi nelayan danau untuk menafkahi keluarga.

Kini, sampan tersebut hampir rampung. Tahap penyempurnaan sedang dilakukan sebelum akhirnya didorong menuju danau yang berada tepat di belakang rumahnya.

Polemik Kayu “Harta Karun” Bencana

Inisiatif Salihin muncul di tengah perdebatan hangat mengenai legalitas pemanfaatan kayu sisa bencana. Di satu sisi, masyarakat merasa memiliki hak atas kayu-kayu tersebut sebagai kompensasi atas kerugian harta benda mereka. Di sisi lain, pemerintah sempat menekankan perlunya koordinasi agar tidak terjadi eksploitasi liar.

Baca Juga :  Tiga Pimpinan OJK Mundur Serentak

Namun, kabar baik datang bagi warga terdampak seperti Salihin. Berdasarkan aturan terbaru:

  1. Izin Terbatas: Masyarakat diperbolehkan memanfaatkan kayu hanyut secara terbatas.
  2. Fokus Pemulihan: Pemanfaatan harus didampingi pemerintah daerah untuk mendukung pemulihan ekonomi warga.
  3. Kemanusiaan: Prioritas diberikan kepada mereka yang kehilangan mata pencaharian utama.

Suara dari Toweren

Nasib Salihin juga dirasakan oleh warga di tiga kampung tetangga: Toweren Antara, Toweren Uken, dan Toweren Toa. Ribuan pasang mata kini tertuju pada danau, berharap air bisa memberikan apa yang telah direnggut oleh tanah.

Bagi warga Aceh Tengah, kayu-kayu yang dibawa banjir bandang mungkin adalah simbol kehancuran, namun di tangan orang-orang seperti Salihin, kayu itu adalah jembatan menuju masa depan yang baru.(red)

Berita Terkait

Pamerkan Inovasi Pangan di THAIFEX 2026, Bawa Keahlian Kuliner Thailand ke Kancah Global
Tangis Bahagia Nenek Jumaria Memandang Kabah
HIPMI Half Marathon 2026 Jadi Masa Depan Sport Tourism Lampung
Menelusuri Labirin dan Data Kemiskinan di Indonesia
Hari Kartini 2026 dan Buruknya Layanan Kesehatan Bagi Perempuan di Pelosok
Prabowo dan Macron Bertemu di Istana Elysee
Mendes Yandri Jelaskan Dana Desa dan Koperasi Merah Putih
Peringatan HUT ke-81 Korp Brimob Lomba X-Treme 2026 Resmi Dimulai

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 11:01 WIB

Pamerkan Inovasi Pangan di THAIFEX 2026, Bawa Keahlian Kuliner Thailand ke Kancah Global

Rabu, 20 Mei 2026 - 09:00 WIB

Tangis Bahagia Nenek Jumaria Memandang Kabah

Rabu, 13 Mei 2026 - 11:36 WIB

HIPMI Half Marathon 2026 Jadi Masa Depan Sport Tourism Lampung

Selasa, 21 April 2026 - 21:25 WIB

Menelusuri Labirin dan Data Kemiskinan di Indonesia

Selasa, 21 April 2026 - 20:50 WIB

Hari Kartini 2026 dan Buruknya Layanan Kesehatan Bagi Perempuan di Pelosok

Berita Terbaru

Uncategorized

Kejagung Sebut Dadan Cs Korupsi Program MBG

Kamis, 4 Jun 2026 - 11:51 WIB

Jakarta

BUMN Eksportir Tunggal Bukan Solusi Masalah Under Invoicing

Jumat, 22 Mei 2026 - 00:55 WIB

Internasional

Tangis Bahagia Nenek Jumaria Memandang Kabah

Rabu, 20 Mei 2026 - 09:00 WIB