LINTANG.CO – Di balik tumpukan lumpur dan batang kayu raksasa yang meluluhlantakkan Kampung Toweren Owaq, suara pahat kayu manual terdengar beradu dengan sunyi. Salihin, seorang warga setempat, tidak sedang meratapi sawah dan kebun kopinya yang kini rata dengan tanah. Di tangannya, sebatang kayu gelondongan sisa banjir bandang sedang bertransformasi menjadi sebuah sampan—satu-satunya harapan untuk menyambung hidup.
Bagi Salihin, perahu ini bukan sekadar alat transportasi air. Ini adalah manifestasi dari daya lentur seorang kepala keluarga yang kehilangan segalanya dalam semalam.
Mengubah Musibah Menjadi Peluang
Banjir bandang yang menerjang wilayah Aceh Tengah tidak hanya membawa air, tetapi juga material longsor berupa batu dan kayu-kayu besar yang menimbun lahan pertanian. Salihin adalah satu dari sekian banyak warga yang kehilangan mata pencaharian ganda: sawah padi dan kebun kopi.
“Sawah sudah habis, kebun sudah habis. Tidak ada lagi usaha selain melaut [ke danau],” ungkap Salihin sebagaimana dilansir dari BBC Indonesia.

Memilih untuk tidak menyerah pada keadaan, Salihin memanfaatkan kayu yang hanyut di sawah orang lain. Dengan peralatan seadanya—tanpa bantuan mesin listrik karena aliran setrum yang sempat terputus total—ia memahat kayu tersebut secara manual.
Detail Perjuangan Salihin
- Material: Kayu gelondongan sisa banjir bandang.
- Metode: Manual (memahat dan merakit dengan kekuatan tangan).
- Lokasi: Sekitar 100 meter dari tepi danau.
- Tujuan: Menjadi nelayan danau untuk menafkahi keluarga.
Kini, sampan tersebut hampir rampung. Tahap penyempurnaan sedang dilakukan sebelum akhirnya didorong menuju danau yang berada tepat di belakang rumahnya.
Polemik Kayu “Harta Karun” Bencana
Inisiatif Salihin muncul di tengah perdebatan hangat mengenai legalitas pemanfaatan kayu sisa bencana. Di satu sisi, masyarakat merasa memiliki hak atas kayu-kayu tersebut sebagai kompensasi atas kerugian harta benda mereka. Di sisi lain, pemerintah sempat menekankan perlunya koordinasi agar tidak terjadi eksploitasi liar.

Namun, kabar baik datang bagi warga terdampak seperti Salihin. Berdasarkan aturan terbaru:
- Izin Terbatas: Masyarakat diperbolehkan memanfaatkan kayu hanyut secara terbatas.
- Fokus Pemulihan: Pemanfaatan harus didampingi pemerintah daerah untuk mendukung pemulihan ekonomi warga.
- Kemanusiaan: Prioritas diberikan kepada mereka yang kehilangan mata pencaharian utama.
Suara dari Toweren
Nasib Salihin juga dirasakan oleh warga di tiga kampung tetangga: Toweren Antara, Toweren Uken, dan Toweren Toa. Ribuan pasang mata kini tertuju pada danau, berharap air bisa memberikan apa yang telah direnggut oleh tanah.
Bagi warga Aceh Tengah, kayu-kayu yang dibawa banjir bandang mungkin adalah simbol kehancuran, namun di tangan orang-orang seperti Salihin, kayu itu adalah jembatan menuju masa depan yang baru.(red)










