LINTANG.CO — Di balik jeruji besi Polrestabes Surabaya yang dingin, seorang pria berinisial IRF tertunduk lesu. Matanya sembab, bukan sekadar karena penyesalan atas tindak kriminal yang menjeratnya, melainkan karena bayang-bayang wajah mungil buah hatinya yang sedang bertaruh nyawa di rumah.
IRF adalah potret seorang ayah yang kehilangan arah. Ia mengaku terpaksa menabrak hukum demi membiayai pengobatan anaknya yang menderita jantung bocor. Sebuah pilihan nekat yang justru memisahkannya dari keluarga di saat mereka paling membutuhkannya.
Pertemuan IRF dengan Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, menjadi momen yang mengiris hati. Di hadapan sang Kombes, tangis IRF pecah. Sebuah pengakuan jujur meluncur dari bibirnya yang bergetar.
“Sudah tiga kali anak saya enggak ada (meninggal), Pak. Kalau empat kali jangan sampai, Pak. Ini memang buat anak,” ucap IRF sesenggukan. Bagi IRF, setiap detik di dalam sel adalah siksaan batin, membayangkan anak keempatnya menyusul ketiga kakaknya yang telah tiada karena keterbatasan biaya.
Air Gula Pengganti Susu
Rasa iba membawa Kombes Luthfie melangkah jauh dari hiruk-pikuk kantor polisi menuju sebuah rumah sangat sederhana—tempat istri IRF berjuang sendirian. Di sana, sebuah kenyataan pahit terungkap.
Tanpa nafkah dari sang suami yang mendekam di tahanan, sang istri terpaksa memberikan air gula pasir kepada bayinya sebagai pengganti susu.
“Sejak kapan (diberi air gula)?” tanya Luthfie dengan nada rendah, nyaris tak percaya. “Sejak ayahnya masuk tahanan,” jawab sang istri pelan sembari menggendong anaknya yang menangis, seolah tangisan itu adalah satu-satunya bahasa untuk rasa lapar dan sakit yang ia rasakan.
Napas bayi itu mungkin bocor karena jantung yang tak sempurna, namun keadaan ekonomi yang menghimpit membuat hidup keluarga ini jauh lebih sesak.
Secercah Harapan di Balik Musibah
Tersentuh oleh tragedi tersebut, Kombes Luthfie segera turun tangan. Bantuan susu kotak dan biaya pengobatan dialirkan untuk menyambung hidup sang bayi. Kini, buah hati IRF telah mendapatkan penanganan medis yang layak, terdaftar dalam kepesertaan BPJS, dan mulai menjalani terapi intensif.
Melalui akun Instagram pribadinya, @luthfie.daily, sang Kapolrestabes menuliskan pesan yang menyentuh: “Betapa besar pengorbanan seorang ayah terhadap keluarganya. Semoga adek cepat diberikan kesembuhan dan kembali ceria seperti sediakala.”
IRF memang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum. Namun, bantuan ini memberikan satu hal yang sempat hilang dari hidupnya: harapan bahwa anak keempatnya tidak akan berakhir di nisan yang sama dengan kakak-kakaknya. (red)










