Mengenang Keteladanan Fatmawati Soekarno

PDIP menggelar lomba mode nasional bertajuk "Fatmawati Trophy" sebagai upaya mengenang dan membangkitkan kesadaran kolektif atas hadirnya "Ibu Bangsa" yang ke-103 tahun

- Jurnalis

Senin, 9 Februari 2026 - 09:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LINTANG.CO- Dalam kesunyian, Fatmawati Soekarno menyatukan seluruh anak bangsa. Sayup-sayup pemberdayaan perempuan turut diperjuangkan oleh istri Proklamator RI, Sukarno. Kini, memori kolektif tentangnya digali kembali dalam ajang lomba desain busana.

Deretan foto lawas berwarna hitam putih berderet-deret dipajang di salah satu lorong di kediaman Fatmawati di Jakarta, Sabtu (7/2/2026).

Foto-foto itu menampilkan Fatmawati pada beragam kesempatan dengan berbagai busana anggunnya. Salah satunya kebaya berwarna merah kecoklatan dengan motif bunga, jarik batik, dan kerudung putih yang terpasang pada sebuah maneken. Kombinasi mode semacam itu
merupakan gaya busana khas Fatmawati yang sering terlihat dalam potret berbagai arsip sejarah.

Kenangan tentang Fatmawati itu dipamerkan saat pembukaan lomba mode nasional bertajuk Fatmawati Trophy yang dihelat PDI Perjuangan untuk mengenang 103 tahun hari lahir sang tokoh. Ajang itu lahir dari kontemplasi putra Ketua Umum PDI-P Megawati
Soekarnoputri, yakni M Prananda Prabowo, yang ingin mengabadikan Fatmawati dalam arsip nilai peradaban, bukan sekadar ikon nostalgia.

Selain sebagai seorang istri dan ibu, Fatmawati dikenal sebagai sosok yang menjahit bendera pusaka Indonesia, Sang Merah Putih. Secarik kain merah dan putih yang mempersatukan anak bangsa dalam pekik merdeka.

Pada era itu, urusan menjahit bendera tidak sesederhana kelihatannya. Saat Indonesia masih berada di bawah penjajahan Jepang, kain berukuran besar sebagai bahan baku pembuatan bendera sulit didapat. Sebagai penjajah, Jepang menerapkan sistem ekonomi perang yang memprioritaskan logistik untuk kebutuhan mereka.

Baca Juga :  Piala Dunia: Panggung Prestasi, Perayaan Budaya, dan Penggerak Ekonomi Global

Dalam situasi sulit itu, Fatmawati diberi dua lembar kain besar-besar, warna merah dan putih, dari seorang perwira bernama Hitoshi Shimizu, yang menjabat kepala propaganda Jepang di Indonesia.

Perjuangan Fatmawati masih berlanjut kendati bendera pusaka selesai dijahit. Senjatanya bukan lagi mesin jahit tangan, melainkan berbagai
alat masak serta bahan pangan. Ia mendirikan dapur umum saat situasi keamanan bergejolak sesudah proklamasi. Masakan buatannya memberi energi ratusan orang yang berkumpul membentuk benteng perlindungan bagi Sukarno dan keluarganya di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.

Hal serupa terulang sewaktu ibu kota negara berpindah ke Yogyakarta selama 1946-1949. Sekali waktu, ada pengumpulan makanan untuk pasukan Divisi Siliwangi yang sedang bergerilya di Jawa Barat. Untuk kebutuhan itu, Fatmawati dan para pembantunya memasak rendang, lalu mengirimkannya sebagai bekal bagi pasukan yang tengah berperang.

”Keteladanan Ibu Bangsa, Fatmawati Soekarno, dalam kesederhanaan, keteguhan, moral, dan keanggunan perempuan Indonesia adalah nilai luhur yang tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi harus terus dihidupkan, ditafsirkan ulang, dan diwariskan kepada generasi penerus bangsa,” kata Ketua Panitia Nasional Fatmawati Trophy I Gusti Ayu Bintang Darmawati.

Cucu Fatmawati, Puti Guntur Soekarno, mengenang neneknya sebagai seseorang yang berprinsip teguh dan penuh kehangatan. Status ibu negara tidak lantas membuat sang nenek silau. Buktinya, sang nenek masih selalu memasak sendiri jika keluarga besarnya berkumpul.
Bagi Puti, sang nenek adalah ”Ibu Bangsa”. Julukan itu bukan dipengaruhi statusnya sebagai istri Sukarno, melainkan sederet teladan yang ditinggalkan. Berkat ajarannya, anak-anaknya kemudian jadi pemimpin dan tokoh bangsa.

Baca Juga :  Kantor Penyedia Jasa Drone Terbakar, 22 Karyawan Tewas

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto mengungkapkan, Fatmawati ikut bergerak dalam dimensi pembebasan politik ka
rena mendorong Sukarno mengadakan kursus-kursus politik bagi kaum perempuan.

Kursus-kursus itu digagas saat kondisi bangsa ini baru mempunyai 2 persen penduduk yang bisa baca tulis. Ini menjadi gagasan yang sangat progresif pada zamannya.

Dimensi sosial kemanusiaan tak luput dari perjuangan Fatmawati. Dalam sejumlah kunjungan, ia kerap menyaksikan banyak anak-anak menderita sakit paru-paru tanpa layanan kesehatan memadai. Keadaan itu mendorongnya untuk mendirikan rumah sakit khusus
anak-anak. Ia lantas mengumpulkan dana, termasuk melelang peci milik suaminya yang menjadi simbol kepemimpinan nasional.

Ikhtiar perjuangan juga dijalani Fatmawati dari jalur kebudayaan. Ia selalu tampil percaya diri dengan wastra lokal saat mendampingi Sukarno menerima tamu dari berbagai bangsa. Kepercayaan diri mengenakan mode busana lokal mencerminkan kemerdekaan
negeri ini dalam kebudayaan. (lis)

Berita Terkait

BUMN Eksportir Tunggal Bukan Solusi Masalah Under Invoicing
OJK Pastikan Stabilitas Pasar tetap Terjaga Pasca-Rebalancing MSCI
HIPMI Half Marathon 2026 Jadi Masa Depan Sport Tourism Lampung
Imbas Kecelakaan KA Argo Bromo, Taksi Green SM Terancam Dicabut Izinnya
⁠Jumhur Hidayat Dilantik Jadi Menteri Lingkungan Hidup
Kunjungi Terminal Rajabasa, Dewan Soroti Rendahnya Aktivitas Bus
Kecurangan UTBK 2026 Bermodus Joki, Manipulasi Data, sampai Tanam Alat di Telinga
Buku ‘Kekuasaan Yang Menolong’ karya Sekjen Golkar Diluncurkan
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 00:55 WIB

BUMN Eksportir Tunggal Bukan Solusi Masalah Under Invoicing

Rabu, 13 Mei 2026 - 15:12 WIB

OJK Pastikan Stabilitas Pasar tetap Terjaga Pasca-Rebalancing MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 - 11:36 WIB

HIPMI Half Marathon 2026 Jadi Masa Depan Sport Tourism Lampung

Selasa, 28 April 2026 - 21:07 WIB

Imbas Kecelakaan KA Argo Bromo, Taksi Green SM Terancam Dicabut Izinnya

Senin, 27 April 2026 - 17:42 WIB

⁠Jumhur Hidayat Dilantik Jadi Menteri Lingkungan Hidup

Berita Terbaru

Jakarta

BUMN Eksportir Tunggal Bukan Solusi Masalah Under Invoicing

Jumat, 22 Mei 2026 - 00:55 WIB

Internasional

Tangis Bahagia Nenek Jumaria Memandang Kabah

Rabu, 20 Mei 2026 - 09:00 WIB

Susastra

Menjawab Kritik Majalah The Economist Terhadap Prabowo

Minggu, 17 Mei 2026 - 13:37 WIB