LINTANG.CO- Di tengah gempuran modernisasi yang sering kali mengaburkan jejak tradisi, sebuah langkah nyata untuk menjaga nyala api literasi dan budaya Lampung baru saja ditorehkan. Bertempat di jantung kota Bandar Lampung, Sabtu (17/1/2026), Sijado Institute bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII Bengkulu dan Lampung sukses menggelar “Malam Cerita Budaya”.
Puncak acara ini ditandai dengan peluncuran buku bertajuk Sepilihan Cerpen Berbasis Cerita Rakyat dan Budaya Lampung. Peluncuran ini bukan sekadar seremoni sastra biasa, melainkan sebuah misi ambisius melalui program Alih Wahana Cerita Rakyat dan Budaya Lampung dalam Bentuk Cerpen Modern.
Menjembatani Tradisi dengan Napas Modernitas
Program ini berangkat dari keresahan akan mulai memudarnya dongeng-dongeng leluhur di kalangan generasi Z dan Alpha. Melalui pendekatan alih wahana, cerita rakyat yang dulunya bersifat lisan atau teks klasik, kini “dilahirkan kembali” dalam format cerpen modern yang lebih dinamis, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan masa kini.

Ketua Sijado Institute, Udo Z. Karzi, menekankan pentingnya adaptasi dalam pelestarian budaya. Menurutnya, tradisi tidak boleh dibiarkan statis jika ingin tetap dicintai.
“Cerpen modern menjadi medium yang efektif untuk menjembatani tradisi dan generasi muda. Kami ingin cerita rakyat tidak hanya menjadi arsip yang berdebu, tetapi menjadi bacaan yang hidup dan mampu berkomunikasi dengan zamannya,” ujar Udo.
Dari Puluhan Naskah Menuju Kurasi Sastra
Perjalanan lahirnya buku ini melalui proses kreatif yang panjang dan kompetitif. Dimulai dari Lomba Menulis Cerpen Berbasis Cerita Rakyat dan Budaya Lampung yang berhasil menjaring 57 naskah dari kalangan pelajar dan mahasiswa di Provinsi Lampung.
Setelah melalui seleksi awal, 20 penulis terpilih mendapatkan kesempatan mengikuti workshop penulisan intensif untuk mempertajam kemampuan narasi mereka. Tahap akhir adalah kurasi ketat yang dilakukan oleh tiga tokoh sastra dan budaya Lampung: Udo Z. Karzi, Fadilasari, dan Yulizar Fadli.
Hasilnya, terpilihlah 17 cerpen terbaik yang kini terhimpun dalam buku tersebut. Tiga karya menonjol yang berhasil meraih posisi teratas adalah:
- Terbaik I: Kain Merah di Malam Jahanam karya Aisyah ZA.
- Terbaik II: Kebun Keluarga karya Fauzi.
- Terbaik III: Mengawini Anjing Gila karya Nabila Aulia Deboa Sain.
Dukungan Akademisi dan Pemerintah
Upaya literasi ini mendapat apresiasi tinggi dari berbagai pihak. Prof. Dr. Farida Ariyani, M.Pd, Guru Besar Bahasa Lampung pertama di Universitas Lampung, menyoroti pentingnya keberlanjutan dari ekosistem ini. Ia menegaskan bahwa Lampung sangat membutuhkan ruang kreatif serupa agar identitas lokal tetap terjaga.
Senada dengan hal tersebut, Kepala UPTD Taman Budaya Lampung, Melly Ayunda, menyatakan bahwa inisiatif Sijado Institute merupakan kontribusi vital bagi indeks literasi daerah. “Kegiatan seperti ini sangat membantu dalam memperkuat literasi sekaligus pelestarian budaya. Ini adalah langkah konkret dalam membangun kesadaran budaya di kalangan generasi muda,” jelas Melly.
Masa Depan Literasi Lampung
Melalui peluncuran buku ini, Sijado Institute berharap dapat menciptakan efek domino bagi dunia kepenulisan di Lampung. Kehadiran penulis-penulis muda yang mampu mengolah tema lokal ke dalam sastra modern diharapkan dapat menjadi benteng bagi pelestarian nilai-nilai budaya Lampung di masa depan.
Buku Sepilihan Cerpen Berbasis Cerita Rakyat dan Budaya Lampung kini menjadi bukti nyata bahwa cerita dari masa lalu tetap memiliki kekuatan untuk bersuara di masa kini—jika diberi ruang dan medium yang tepat.(lis)










