Sijado Institute Luncukan Buku Cerpen Berbasis Budaya Lampung

Sebagai langkah untuk menghidupkan tradisi melalui Pena, Sijado Institute bersama Balai Pelestarian Kebudayaan menggelar Malam Cerita Budaya

- Jurnalis

Senin, 19 Januari 2026 - 14:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LINTANG.CO- Di tengah gempuran modernisasi yang sering kali mengaburkan jejak tradisi, sebuah langkah nyata untuk menjaga nyala api literasi dan budaya Lampung baru saja ditorehkan. Bertempat di jantung kota Bandar Lampung, Sabtu (17/1/2026), Sijado Institute bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII Bengkulu dan Lampung sukses menggelar “Malam Cerita Budaya”.

Puncak acara ini ditandai dengan peluncuran buku bertajuk Sepilihan Cerpen Berbasis Cerita Rakyat dan Budaya Lampung. Peluncuran ini bukan sekadar seremoni sastra biasa, melainkan sebuah misi ambisius melalui program Alih Wahana Cerita Rakyat dan Budaya Lampung dalam Bentuk Cerpen Modern.

Menjembatani Tradisi dengan Napas Modernitas

Program ini berangkat dari keresahan akan mulai memudarnya dongeng-dongeng leluhur di kalangan generasi Z dan Alpha. Melalui pendekatan alih wahana, cerita rakyat yang dulunya bersifat lisan atau teks klasik, kini “dilahirkan kembali” dalam format cerpen modern yang lebih dinamis, kontekstual, dan relevan dengan kehidupan masa kini.

Ketua Sijado Institute, Udo Z. Karzi, menekankan pentingnya adaptasi dalam pelestarian budaya. Menurutnya, tradisi tidak boleh dibiarkan statis jika ingin tetap dicintai.

“Cerpen modern menjadi medium yang efektif untuk menjembatani tradisi dan generasi muda. Kami ingin cerita rakyat tidak hanya menjadi arsip yang berdebu, tetapi menjadi bacaan yang hidup dan mampu berkomunikasi dengan zamannya,” ujar Udo.

Dari Puluhan Naskah Menuju Kurasi Sastra

Perjalanan lahirnya buku ini melalui proses kreatif yang panjang dan kompetitif. Dimulai dari Lomba Menulis Cerpen Berbasis Cerita Rakyat dan Budaya Lampung yang berhasil menjaring 57 naskah dari kalangan pelajar dan mahasiswa di Provinsi Lampung.

Baca Juga :  Kasus Bullying Melonjak, Pentingnya Lingkungan Pendidikan yang Aman

Setelah melalui seleksi awal, 20 penulis terpilih mendapatkan kesempatan mengikuti workshop penulisan intensif untuk mempertajam kemampuan narasi mereka. Tahap akhir adalah kurasi ketat yang dilakukan oleh tiga tokoh sastra dan budaya Lampung: Udo Z. Karzi, Fadilasari, dan Yulizar Fadli.

Hasilnya, terpilihlah 17 cerpen terbaik yang kini terhimpun dalam buku tersebut. Tiga karya menonjol yang berhasil meraih posisi teratas adalah:

  1. Terbaik I: Kain Merah di Malam Jahanam karya Aisyah ZA.
  2. Terbaik II: Kebun Keluarga karya Fauzi.
  3. Terbaik III: Mengawini Anjing Gila karya Nabila Aulia Deboa Sain.

Dukungan Akademisi dan Pemerintah

Upaya literasi ini mendapat apresiasi tinggi dari berbagai pihak. Prof. Dr. Farida Ariyani, M.Pd, Guru Besar Bahasa Lampung pertama di Universitas Lampung, menyoroti pentingnya keberlanjutan dari ekosistem ini. Ia menegaskan bahwa Lampung sangat membutuhkan ruang kreatif serupa agar identitas lokal tetap terjaga.

Baca Juga :  Bantuan Beras UEA Disalurkan Muhammadiyah, Tidak jadi Dikembalikan

Senada dengan hal tersebut, Kepala UPTD Taman Budaya Lampung, Melly Ayunda, menyatakan bahwa inisiatif Sijado Institute merupakan kontribusi vital bagi indeks literasi daerah. “Kegiatan seperti ini sangat membantu dalam memperkuat literasi sekaligus pelestarian budaya. Ini adalah langkah konkret dalam membangun kesadaran budaya di kalangan generasi muda,” jelas Melly.

Masa Depan Literasi Lampung

Melalui peluncuran buku ini, Sijado Institute berharap dapat menciptakan efek domino bagi dunia kepenulisan di Lampung. Kehadiran penulis-penulis muda yang mampu mengolah tema lokal ke dalam sastra modern diharapkan dapat menjadi benteng bagi pelestarian nilai-nilai budaya Lampung di masa depan.

Buku Sepilihan Cerpen Berbasis Cerita Rakyat dan Budaya Lampung kini menjadi bukti nyata bahwa cerita dari masa lalu tetap memiliki kekuatan untuk bersuara di masa kini—jika diberi ruang dan medium yang tepat.(lis)

Berita Terkait

​Guru Besar UGM Nolak Hadir, dari Unila Shelfie Bangga
Seni yang Menyembuhkan di Kamis Budaya
Konflik Gajah vs Manusia yang Berujung Demo Warga Lamtim ke TNWK
Mengejar Ketertinggalan dengan Prioritas Pendidikan STEM
Memutus Takdir Kemiskinan dari Peresmian 166 SR
Kepsek Mesum di Lamtim Terancam Pecat
Rapor Merah Pendidikan: Penyimpangan Anggaran dan Maraknya Kekerasan di Sekolah
Mengukir Asa di Atas Kayu Bencana, Kisah Salihin Melawan Nestapa Banjir Bandang
Berita ini 18 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Senin, 19 Januari 2026 - 14:50 WIB

Sijado Institute Luncukan Buku Cerpen Berbasis Budaya Lampung

Sabtu, 17 Januari 2026 - 20:57 WIB

​Guru Besar UGM Nolak Hadir, dari Unila Shelfie Bangga

Kamis, 15 Januari 2026 - 20:05 WIB

Seni yang Menyembuhkan di Kamis Budaya

Selasa, 13 Januari 2026 - 23:16 WIB

Konflik Gajah vs Manusia yang Berujung Demo Warga Lamtim ke TNWK

Selasa, 13 Januari 2026 - 11:56 WIB

Mengejar Ketertinggalan dengan Prioritas Pendidikan STEM

Berita Terbaru

Bisnis

SGC Disoal, Nyonya Lee Merapat ke Warga

Kamis, 22 Jan 2026 - 14:09 WIB

Politik

Utang Indonesia Membengkak Dekati Level Krisis Era Pandemi

Selasa, 20 Jan 2026 - 14:15 WIB

Bisnis

Ratusan Juta Pekerja Terlilit Kemiskinan Ekstrem

Selasa, 20 Jan 2026 - 14:03 WIB