Memutus Takdir Kemiskinan dari Peresmian 166 SR

Harapan baru dari peresmian 166 Sekolah Rakyat (SR) untuk ‘The Invisible People’ menjawab belenggu kemiskinan dengan sekolah berasrama.

- Jurnalis

Selasa, 13 Januari 2026 - 11:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LINTANG.CO– Ada sebuah pemeo pahit dalam struktur sosial di tengah masyarakat kita; “anak orang miskin akan tumbuh menjadi orang miskin.”

Namun demikian, narasi pesimistis itulah yang ingin didobrak oleh pemerintah melalui peresmian 166 Sekolah Rakyat (SR) di seluruh penjuru Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto, saat meresmikan SR Terintegrasi 9 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin, 12 Januari 2026, menegaskan bahwa keadilan sosial bukan sekadar angka pertumbuhan ekonomi, melainkan pemerataan kesempatan. SR hadir sebagai jembatan bagi anak-anak dari keluarga paling tidak mampu untuk melompati pagar kemiskinan.

“Pertumbuhan harus disertai pemerataan. Sistem yang tidak mengupayakan pemerataan kurang bermanfaat bagi sebuah bangsa,” ujar Presiden.

Baca Juga :  BUMN Eksportir Tunggal Bukan Solusi Masalah Under Invoicing

Data menunjukkan, sekitar 60 persen orangtua dari 15.954 siswa SR saat ini bekerja sebagai buruh harian lepas, kuli bangunan, pemulung, hingga pencari rumput dengan penghasilan di bawah Rp 1 juta per bulan. Mereka adalah kelompok yang disebut Menteri Sosial Saifullah Yusuf sebagai the invisible people—masyarakat yang seringkali penderitaannya tak terlihat dan tak terasa dalam bisingnya pembangunan kota.

Melalui sistem asrama dan pendidikan berkualitas, SR diharapkan menjadi kawah candradimuka bagi anak-anak ini. Menariknya, selain kurikulum standar, para siswa dibekali kemampuan bahasa asing mulai dari Inggris, Jepang, hingga Mandarin.

Baca Juga :  ​Guru Besar UGM Nolak Hadir, dari Unila Shelfie Bangga

Meski demikian, pengamat pendidikan Darmaningtyas mengingatkan agar tata kelola SR tidak menjadi “pulau terpencil” dalam Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Ia menekankan perlunya kolaborasi antara Kementerian Sosial dan Kemendikdasmen agar aspek legalitas dan kurikulum tetap sinkron, tanpa mengabaikan nasib sekolah-sekolah swasta kecil yang selama ini sudah berjuang di garis depan kemiskinan.

Pada akhirnya, Sekolah Rakyat bukan sekadar gedung sekolah, melainkan sebuah janji negara bahwa kemiskinan orangtua tidak boleh menjadi hukuman mati bagi masa depan anak.(red)

Berita Terkait

Kecurangan UTBK 2026 Bermodus Joki, Manipulasi Data, sampai Tanam Alat di Telinga
Kemah Sastra 2026 Hadirkan Akademisi Unila dan UIN RIL
MBG Digugat ke MK, Minta Adies Kadir Tak Ikut Mengadili
Terpilih 50 Proposal Terbaik Hackathon Rumah Pendidikan 2025
Kriminalisasi Guru dan Rapuhnya Perlindungan Profesi Pendidik
Sijado Institute Luncukan Buku Cerpen Berbasis Budaya Lampung
​Guru Besar UGM Nolak Hadir, dari Unila Shelfie Bangga
Seni yang Menyembuhkan di Kamis Budaya
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 18:53 WIB

Kecurangan UTBK 2026 Bermodus Joki, Manipulasi Data, sampai Tanam Alat di Telinga

Kamis, 9 April 2026 - 15:56 WIB

Kemah Sastra 2026 Hadirkan Akademisi Unila dan UIN RIL

Kamis, 12 Februari 2026 - 08:34 WIB

MBG Digugat ke MK, Minta Adies Kadir Tak Ikut Mengadili

Senin, 2 Februari 2026 - 08:36 WIB

Terpilih 50 Proposal Terbaik Hackathon Rumah Pendidikan 2025

Jumat, 30 Januari 2026 - 14:50 WIB

Kriminalisasi Guru dan Rapuhnya Perlindungan Profesi Pendidik

Berita Terbaru

Nasional

TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis

Selasa, 23 Jun 2026 - 21:29 WIB

Pilihan

Meksiko Tim Pertama Lolos Babak Gugur Piala Dunia 2026

Jumat, 19 Jun 2026 - 11:16 WIB