Bantuan 73 Miliar dari Kementan Disebut Harga Berasnya Typo

Total bantuan untuk korban bencana banjir bandang Sumatera, viral karena harga beras sampai 60 ribu per kg. Dianggap tidak masuk akal.

- Jurnalis

Rabu, 10 Desember 2025 - 18:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bencana Banjir Sumatera | Foto: Ist.

Bencana Banjir Sumatera | Foto: Ist.

LINTANG.CO- Wakil Menteri Pertanian Sudaryono meluruskan informasi yang viral di media sosial soal bantuan pangan beras senilai Rp60 ribu per kilogram (kg) untuk korban bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera.

Menurutnya, telah terjadi kesalahan dalam pengetikan (typo) atas satuan beras yang dipaparkan dalam realisasi penyaluran bantuan pada tabel yang belakangan viral tersebut.

Sebab, nilai bantuan beras sebesar Rp60 ribu untuk tiap penerima manfaat tersebut bukan 1 kilogram tetapi per 5 kilogram.

“Saya mau jelaskan itu kan sempat ramai di sosmed, katanya hitungan Kementan satu kilo beras Rp60 ribu gitu ya? Itu mungkin perlu saya kasih tahu, itu salah, typo tapi perhitungannya tidak keliru. Bukan satu kilo Rp60 ribu, tapi satu pack. Satu pack itu kan 5 kilo,” kata Sudaryono dalam kegiatan memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia lingkup Kementerian Pertanian, seperti dikutip Antara, Rabu (10/12/2025).

Ia mengatakan, tak mungkin bantuan beras hanya diberikan sebanyak 1 kilogram. Pasalnya, standar penyaluran beras kemasan pemerintah adalah satu pack 5 kilogram bagi setiap penerima manfaat yang terdampak bencana alam banjir dan tanah longsor di Sumatera.

Baca Juga :  Rapor Merah Pendidikan: Penyimpangan Anggaran dan Maraknya Kekerasan di Sekolah

“Kan nggak mungkin kita kasih bantuan 1 kilogram kan, pasti ngasihnya kan satu pack 5 kilogram (harga) Rp60 ribu. Jadi satu kilonya adalah Rp12.500 gitu,” jelasnya.

Dengan demikian, harga Rp60 ribu tersebut setara Rp12.500 per kilogram, sehingga perhitungannya benar tanpa merugikan masyarakat penerima bantuan pangan beras pemerintah pusat nasional.

Kesalahan yang terjadi, menurut Sudaryono, hanya pada penulisan satuan di informasi awal, sedangkansubstansi anggaran bantuan pangan tetap sesuai ketentuan berlaku dan mekanisme penyaluran resmi pemerintah kepada masyarakat terdampak bencana.

Sudaryono juga menjelaskan beras kemasan terkecil di pasaran umumnya berbentuk pack lima kilogram, sedangkan ukuran di bawahnya biasanya dijual curah sesuai kebutuhan konsumen melalui penimbangan mandiri di pengecer ritel lokal.

Melalui klarifikasi ini, Kementerian Pertanian berharap masyarakat memahami skema bantuan secara utuh, memperkuat kepercayaan publik, serta mendukung upaya penanganan bencana berkelanjutan di Sumatera dengan komunikasi terbuka, akurat, konsisten, berimbang bertanggung.

Baca Juga :  BUMN Eksportir Tunggal Bukan Solusi Masalah Under Invoicing

Sebelumnya Kementerian Pertanian (Kementan) mengajak masyarakat untuk aktif ikut mengawasi dan mengawal ketat penyaluran bantuan beras 1.200 ton bagi korban bencana di Sumatera, agar distribusi berjalan transparan dan benar-benar tepat sasaran.

“Hingga saat ini, pemerintah telah menyalurkan 1.200 ton bantuan beras senilai Rp16 miliar untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan Moch. Arief Cahyono dalam keterangan di Jakarta, Senin (8/12/2025).

Dia menyampaikan secara total, pemerintah rencananya menyalurkan 10.000 ton bantuan beras. Untuk itu, Kementan menegaskan perlunya keterlibatan publik sehingga mencegah potensi penyimpangan di lapangan.

Kementerian Pertanian menanggapi ramainya perhatian publik terkait data bantuan yang beredar untuk masyarakat terdampak bencana di Sumatera.

“Pemerintah menyampaikan apresiasi kepada warganet yang turut mengawasi dan memberikan masukan terkait transparansi data,” ujar Arief.(lis)

Berita Terkait

BUMN Eksportir Tunggal Bukan Solusi Masalah Under Invoicing
HIPMI Half Marathon 2026 Jadi Masa Depan Sport Tourism Lampung
Menyoal Pangkat Mayor Teddy, Analis Sebut Preseden Berbahaya
Menelusuri Labirin dan Data Kemiskinan di Indonesia
Hari Kartini 2026 dan Buruknya Layanan Kesehatan Bagi Perempuan di Pelosok
Mendes Yandri Jelaskan Dana Desa dan Koperasi Merah Putih
Pertamina Gelar Pasar Murah Bantu Warga Prasejahtera
Terungkap Pasal Siluman soal Tata Niaga Gula Rafinasi

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 00:55 WIB

BUMN Eksportir Tunggal Bukan Solusi Masalah Under Invoicing

Rabu, 13 Mei 2026 - 11:36 WIB

HIPMI Half Marathon 2026 Jadi Masa Depan Sport Tourism Lampung

Kamis, 7 Mei 2026 - 22:25 WIB

Menyoal Pangkat Mayor Teddy, Analis Sebut Preseden Berbahaya

Selasa, 21 April 2026 - 21:25 WIB

Menelusuri Labirin dan Data Kemiskinan di Indonesia

Selasa, 21 April 2026 - 20:50 WIB

Hari Kartini 2026 dan Buruknya Layanan Kesehatan Bagi Perempuan di Pelosok

Berita Terbaru

Nasional

TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis

Selasa, 23 Jun 2026 - 21:29 WIB

Pilihan

Meksiko Tim Pertama Lolos Babak Gugur Piala Dunia 2026

Jumat, 19 Jun 2026 - 11:16 WIB