“Apa kabar, anak muda?”
“Kabar bingung…!”
LEBIH dari tiga dekade lalu, dalam kolom saya berjudul “Anak Muda” di Teknokra No. 130, November 1991, saya mengutip dialog dari Asrul Sani itu sebagai semacam cermin sosial. Anak muda, sejak dulu, selalu berada dalam posisi serbasalah: dituntut memikul masa depan, tetapi tidak sepenuhnya dipercaya untuk mengelolanya. Didukung dalam wacana, tetapi dibatasi dalam praktik.
Hari ini, ketika Anwar Usman menyatakan bahwa Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 90 “bukan untuk Gibran, melainkan untuk semua anak muda,” saya seperti mendengar ulang gema lama itu. Hanya saja, kebingungan anak muda kini berubah wajah. Jika dulu ia lahir dari tekanan yang nyata, kini ia tumbuh dari sesuatu yang lebih halus: ilusi kesempatan.
Pertanyaannya sederhana, tetapi mendasar: anak muda yang mana?
Dalam tulisan saya tahun 1991, saya mencatat bahwa anak muda hidup dalam tarik-menarik antara kebebasan dan pembatasan. Mereka memiliki energi untuk bergerak, tetapi dihadapkan pada birokrasi yang kaku. Mereka ingin menjawab zamannya, tetapi sering kali di-blocking oleh sistem yang mengatasnamakan stabilitas.
Kini, pembatasan itu tidak lagi tampil secara kasar. Ia datang dalam bentuk yang lebih ramah. Anak muda diberi ruang, bahkan didorong tampil ke depan. Namun, seperti banyak hal dalam politik, keterbukaan ini tidak sepenuhnya merata.
Putusan MK memang membuka peluang secara formal. Batas usia dilonggarkan. Secara normatif, ini tampak seperti kemenangan bagi generasi muda. Tetapi hukum tidak bekerja di ruang hampa. Ia selalu bersentuhan dengan realitas sosial yang timpang.
Maka, pertanyaan berikutnya menjadi tak terelakkan: siapa yang benar-benar mampu memanfaatkan peluang itu? Apakah anak muda dari latar belakang biasa, yang harus berjuang dari nol, tanpa jaringan, tanpa modal, tanpa nama besar? Ataukah, anak muda yang sejak awal sudah berada dalam lingkaran kekuasaan—yang aksesnya terbuka, jalannya dipermudah, dan peluangnya dijaga?
Di titik ini, “kabar bingung” menemukan bentuk barunya. Bukan lagi bingung karena tidak diberi kesempatan, tetapi bingung karena kesempatan itu tampak ada—namun tidak sepenuhnya dapat dijangkau.
Saya pernah menulis bahwa jika tekanan terhadap anak muda terlalu kuat, maka akan muncul “reaksi kimia”: antara apatis atau perlawanan. Hari ini, reaksi itu tetap mungkin terjadi, tetapi sumbernya sedikit berbeda.
Ketidakadilan yang paling berbahaya bukanlah larangan yang terang-terangan, melainkan kesempatan yang semu. Ketika anak muda diberi narasi bahwa semua punya peluang yang sama, tetapi dalam praktiknya hanya segelintir yang bisa melaju, maka yang lahir adalah kegamangan yang lebih dalam. Anak muda tidak hanya kecewa pada sistem, tetapi juga mulai meragukan dirinya sendiri.
“Emang siapa lu?”
Kalimat ini bukan sekadar ejekan sosial. Ia adalah cerminan dari struktur yang tidak adil—yang secara halus mengajarkan bahwa peluang bukan hanya soal kemampuan, tetapi juga soal asal-usul.
Di sinilah perbedaan antara “anak muda” sebagai konsep dan sebagai kenyataan menjadi jelas. Dalam konsep, semua anak muda setara. Dalam kenyataan, ada hierarki yang tidak pernah benar-benar dihapus.
Nama Gibran Rakabuming Raka dalam polemik Putusan MK menjadi simbol dari persoalan yang lebih luas. Ini bukan semata soal individu, melainkan tentang bagaimana kekuasaan direproduksi.
Jika dulu kekuasaan cenderung menahan anak muda dari luar, kini ia justru merangkul—tetapi secara selektif. Anak muda yang dekat dengan pusat kekuasaan diberi ruang lebih besar, sementara yang lain tetap berada di pinggiran.
Akibatnya, pola lama tidak benar-benar berubah. Ia hanya berganti cara. Mayoritas anak muda tetap berada dalam posisi yang sama: menonton dari luar, sambil mencoba memahami permainan yang aturannya tidak pernah sepenuhnya transparan.
Dan, mereka kembali menjawab: “kabar bingung.”
Di sinilah saya merasa perlu kembali menegaskan kegelisahan lama: bahwa istilah “anak muda” sering kali digunakan secara umum untuk menutupi kenyataan yang timpang.
Dalam tulisan lama itu, saya juga menyimpan optimisme: bahwa pada akhirnya anak mudalah yang sering keluar sebagai pemenang. Mereka memiliki daya lenting untuk melampaui batas, menemukan jalan, dan menjawab zamannya.
Optimisme itu masih mungkin dipertahankan, tetapi dengan kesadaran baru.
Medan yang dihadapi anak muda hari ini lebih kompleks. Mereka tidak hanya berhadapan dengan kekuasaan yang represif, tetapi juga dengan kekuasaan yang tampak inklusif, tetapi bekerja secara selektif. Ini jauh lebih sulit dibaca, apalagi dilawan.
Sebab, ia tidak selalu terlihat sebagai ketidakadilan. Ia hadir dengan bahasa yang menenangkan: “untuk semua anak muda.”
Di sinilah saya merasa perlu kembali menegaskan kegelisahan lama: bahwa istilah “anak muda” sering kali digunakan secara umum untuk menutupi kenyataan yang timpang.
Saya pernah menulis bahwa gerakan anak muda adalah jawaban atas zamannya. Maka hari ini, pertanyaannya menjadi lebih tajam: jawaban seperti apa yang bisa lahir dari anak muda yang terus-menerus dihadapkan pada ketimpangan yang disamarkan sebagai kesempatan?
Apakah mereka akan tetap melawan? Ataukah, memilih apatis? Atau justru berusaha masuk ke dalam sistem yang sama, lalu tanpa sadar mereproduksi pola yang mereka kritik?
“Jadi anak muda memang tidak mudah. Serbasalah!”
Kalimat ini, yang saya tulis lebih dari tiga puluh tahun lalu, masih terasa relevan hari ini. Ia bukan keluhan, melainkan pengakuan jujur tentang posisi anak muda dalam struktur sosial-politik.
Selama posisi itu tidak benar-benar berubah, maka kebingungan akan tetap menjadi bagian dari pengalaman kolektif anak muda.
Yang berbahaya adalah ketika kebingungan itu disamarkan dengan optimisme semu—seolah semua sudah baik-baik saja, seolah semua memiliki peluang yang sama. Padahal, kenyataannya tidak demikian.
Maka, ketika saya mendengar klaim bahwa sebuah putusan hukum dibuat “untuk semua anak muda,” saya merasa perlu kembali ke pertanyaan lama yang tidak pernah kehilangan relevansinya:
“Apa kabar, anak muda?”
Dan jika dijawab dengan jujur, mungkin jawabannya masih sama: “Kabar bingung…!”
Bedanya, kebingungan hari ini tidak hanya lahir dari tekanan, tetapi juga dari ilusi. Bukan hanya karena pintu ditutup, tetapi karena pintu dibuka—namun hanya benar-benar bisa dimasuki oleh mereka yang sejak awal sudah berdiri paling dekat.
Maka sekali lagi, pertanyaan itu perlu ditegaskan: Anak muda yang mana? (*)
Udo Z Karzi, jurnalis-penulis, tinggal di Bandar Lampung.










