Pundak Pengemban Amanah: Zulkifli Hasan dan Debat Abadi Soal Kepedulian vs Pencitraan

"Saya tahu ada yang bilang ini pencitraan. Tapi bagi saya, ini adalah tanggung jawab moral."

- Jurnalis

Kamis, 4 Desember 2025 - 11:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LINTANG.CO- Minggu (30/11) menjadi fokus lensa media saat Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, terjun langsung ke lokasi bencana di Lubuk Minturun, Kota Padang. Pemandangan itu, di mana Menko Pangan terlihat memanggul karung-karung beras bantuan, langsung viral. Ini adalah potret leadership yang kuat: hadir di tengah kesulitan rakyat.

Namun, di era digital, setiap aksi pejabat publik selalu diikuti oleh dua mata uang: apresiasi dan kritik pedas. Di satu sisi, banyak yang memuji aksi Zulkifli Hasan sebagai tindakan nyata dan cepat dari seorang pejabat yang berakar kuat dari Kampung Pisang, desa kecil di bawah Gunung Rajabasa, Kalianda, Lampung Selatan. Sebuah kisah yang menjadikannya anak kampung yang tak pernah lupa akarnya dan peka terhadap kesulitan masyarakat bawah.

Di sisi lain, media sosial dan kolom komentar riuh dengan kritik dan hujatan yang menuduhnya melakukan “pencitraan”. Para netizen mempertanyakan, apakah perlu seorang menteri sekelas beliau turun langsung memanggul karung, atau haruskah ia fokus pada kebijakan makro?

Baca Juga :  Mendes Yandri Jelaskan Dana Desa dan Koperasi Merah Putih

Akan tetapi, kritik tersebut seolah mentah saat disandingkan dengan rekam jejaknya. Zulkifli Hasan, yang menapaki karir dari Anggota DPR RI (2004) hingga memimpin lembaga tinggi negara sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI), selalu konsisten pada narasi kepedulian.

Di sela-sela peninjauan di Padang, Zulkifli Hasan seolah menjawab kritik tersebut dengan tindakan dan kata-kata yang membumi. Ia tak menghindari isu sensitif itu.

“Saya tahu ada yang bilang ini pencitraan. Tapi bagi saya, ini adalah tanggung jawab moral. Mau disebut pencitraan, silakan saja. Yang penting bantuan ini sampai, stok cukup, dan masyarakat bisa makan,” tegasnya dengan suara lantang, menampakkan sikap yang tak gentar. “Saya ini dari kampung. Saya tahu persis bagaimana rasanya lapar. Kalau ada yang bisa saya lakukan langsung, ya saya lakukan.”

Baca Juga :  KPK Tangkap Tangan Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Sebagai bukti gerak cepatnya, ia mengumumkan langkah konkret: koordinasi dengan Kementerian Perdagangan dan Bulog, serta instruksi untuk melipatkan dua kali lebih banyak bantuan pangan sesuai arahan Presiden Prabowo, memastikan stok aman dan distribusi dipercepat.

Kisah Zulkifli Hasan kini menjadi narasi utuh tentang pemimpin yang beraksi. Terlepas dari perdebatan apakah aksinya adalah politik pencitraan atau murni kepedulian, ia telah membuktikan komitmennya. Dan komitmen ini diteruskan: semangat pengabdiannya kini berlanjut melalui putrinya, Putri Zulkifli Hasan, yang menjabat Ketua Fraksi PAN di DPR RI, memastikan bahwa nilai-nilai pengabdian yang berakar dari Rajabasa terus mengalir dalam kebijakan negara.(adv)

Berita Terkait

BUMN Eksportir Tunggal Bukan Solusi Masalah Under Invoicing
HIPMI Half Marathon 2026 Jadi Masa Depan Sport Tourism Lampung
Menyoal Pangkat Mayor Teddy, Analis Sebut Preseden Berbahaya
Kunjungi Terminal Rajabasa, Dewan Soroti Rendahnya Aktivitas Bus
Menelusuri Labirin dan Data Kemiskinan di Indonesia
Hari Kartini 2026 dan Buruknya Layanan Kesehatan Bagi Perempuan di Pelosok
Buku ‘Kekuasaan Yang Menolong’ karya Sekjen Golkar Diluncurkan
Denda Administratif Dianggap Lebih Bermanfaat Dibanding Hukuman Bagi Perusak Hutan

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 00:55 WIB

BUMN Eksportir Tunggal Bukan Solusi Masalah Under Invoicing

Rabu, 13 Mei 2026 - 11:36 WIB

HIPMI Half Marathon 2026 Jadi Masa Depan Sport Tourism Lampung

Kamis, 23 April 2026 - 22:58 WIB

Kunjungi Terminal Rajabasa, Dewan Soroti Rendahnya Aktivitas Bus

Selasa, 21 April 2026 - 21:25 WIB

Menelusuri Labirin dan Data Kemiskinan di Indonesia

Selasa, 21 April 2026 - 20:50 WIB

Hari Kartini 2026 dan Buruknya Layanan Kesehatan Bagi Perempuan di Pelosok

Berita Terbaru

Jakarta

BUMN Eksportir Tunggal Bukan Solusi Masalah Under Invoicing

Jumat, 22 Mei 2026 - 00:55 WIB

Internasional

Tangis Bahagia Nenek Jumaria Memandang Kabah

Rabu, 20 Mei 2026 - 09:00 WIB

Susastra

Menjawab Kritik Majalah The Economist Terhadap Prabowo

Minggu, 17 Mei 2026 - 13:37 WIB